JEDDAH - Sekretaris Jenderal Majelis Pemuda Muslim Dunia (WAMY), Badahdah Muhammad, menyerukan kepada pemuda Muslim di dunia untuk menggunakan media informasi modern, termasuk media sosial populer seperti Facebook guna menyebarkan pesan Islam. Ajakan itu ia sampaikan saat membuka lokakarya yang diselenggarakan oleh Media Islahiya Chennamangallur Asosiasi di Jeddah, Ahad Minggu (24/4).

Muslim, menurut Badahdah harus mendapatkan lebih banyak pelatihan dalam kegiatan media untuk menjadi ahli di bidang tersebut dan memberikan media massa, arah yang tepat. "Media harus menjadi kekuatan perubahan di dunia. Tidak ada yang mengetahui kekuatan dan pengaruhnya. Kita harus menggunakan media modern (Facebook) untuk menyebarkan kebenaran pesan Islam sehingga dapat merubah kesalahpahaman tentang agama besar ini," paparnya.

Tidak hanya mengajak umat Muslim di dunia, Badahdah juga berbicara tentang kegiatan organisasnya yang telah ada di beberapa negara untuk memberdayakan pemuda Muslim dan
memberikan bimbingan hukum Islam yang benar untuk memungkinkan mereka memainkan peran konstruktif dalam masyarakat mereka.

Dalam lokakarya itu juga menghadirkan Editor berita di Harian Gulf Madhyamam, Kassim Irikkur. Ia berbicara seputar reportase berita dan bagaimana menyusun wawancara. Sementara editor Malayalam, A. M. Sajith menjelaskan tentang struktur berita, sumber berita dan reporter yang berkualitas.

Sedangkan C. B. Sudhakaran dari Universitas King Abdulaziz memberikan kuliah seputar teknik menulis. Kepala Himpunan Islahiya yang juga ediotr di Harian Madhyaman, O. Abdul Rahman mengupas seputar video.

republika.co.id


Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
LOS ANGELES - Siapa aparat kepolisian yang paling populer di kalangan Muslim Amerika Serikat? Jawabannya pasti Lee Baca, sheriff Los Angeles County, California. Dimanapun dia berada, Muslim akan menyapanya, begitupun sebaliknya.

Dialah yang antara lain memberi masukan untuk merangkul Muslim sebagai bagian dari bangsa Amerika serikat. begitupun saat berbicara tentang isu keamanan nasional, dia senantiasa meminta Muslim agar jangan ditinggalkan.

Pekan lalu, New York Times menguntit dia seharian. Tujuannya, untuk menuliskan reortase tentang bagaimana keseharian sang sheriff idola ini. laporan itu akan diturunkan pekan ini.

Saat berjalan bersama, misalnya, tiba-tiba muncul serombongan gadis berjilbab. Baca menyapanya, begitupula pada gadis itu. "Apakah mereka terlihat seperti teroris untuk Anda?" katanya pada wartawan itu. "Bagi saya tidak. Mereka bukan teroris. Saya tahu seperti apa publik saya."

Saat gelombang kebencian pasca Peristiwa 9/11 dengan cepat melanda AS, Baca mengambil arah yang tidak biasa. Ketika banyak politisi memilih pendekatan kekuasaan, Baca malah membuka Alquran. Ia menelaah kitab itu, membacanya dari depan ke belakang, dan menghafal beberapa bagiannya.

Beberapa hari setelah serangan teroris, Baca bertemu dengan para pemimpin Muslim lokal, menjanjikan perlindungan. Menanggapi laporan bahwa pemilik toko Pakistan sedang diganggu, Baca memerintahkan deputinya untuk "memberikan dukungan dan perlindungan penuh."

Empatinya untuk minoritas teraniaya, katanya, tidak berakar pada apapun pengalaman di masa lalunya. meski ia keturunan Amerika Meksiko, ia mengalami kehidupan yang normal seperti anak-anak lain. "Bukan karena latar belakang bagaimana seseorang berbuat kebaikan pada orang lain. Kehidupan memang harus berjalan demikian (saling berbuat baik, red)," katanya.

David Leroy "Lee" Baca ahir 27 Mei 1942. Baca memegang gelar doktor Administrasi Publik dari University of Southern California.

Baca terpilih dan dilantik menjadi sheriff Los Angeles County pada tanggal 7 Desember 1998. Ia terpilih kembali untuk masa jabatan keempat pada tahun 2010.

Baca menikah dengan Carol. Mereka aktif dalam berbagai organisasi masyarakat, termasuk Los Angeles Chinese American Museum. Mereka diberi penghargaan Historymakers pada tahun 2004 untuk tindakan visioner.

Sumber: Los Angeles Times / republika.co.id / pumitabusan.com


Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
Kursus pendidikan tentang prinsip-prinsip Islam bakal dihadiri oleh guru Sekolah Katolik di Tourcoing, utara Prancis. Masjid Sunna, yang merupakan masjid tertua di kota tersebut, bakal menjadi tuan rumah.

Kehadiran para guru Katolik tersebut, merupakan permintaan sekelompok guru dari tiga sekolah Katolik di Prancis. Mereka mengaku tertarik untuk mempelajari Islam.

Alasan para guru Katolik tertarik untuk mempelajari Islam, adalah karena banyak siswanya yang beragama Muslim. Dalam pertemuan dengan beberapa guru Katolik, Rachid Sahri, Direktur Institut Islam di Roubaix mengatakan bahwa Muslim dan Kristen percaya kepada Tuhan, meskipun ada beberapa titik pandang individu dalam hal agama.

Ia mencatat bahwa pengajaran prinsip-prinsip Islam untuk guru di sekolah Katolik merupakan langkah besar menuju mempromosikan budaya dialog antar agama.

Sumber: www.abna.ir / republika.co.id / pumitabusan.com


Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
Pemerintah Prancis berniat kembali menggulirkan kebijakan anti-Islam setelah sebelumnya, undang-undang kontroversial larangan pemakaian jilbab, mendapat protes hebat dari umat Islam. Dengan alasan karena warga Muslim menunaikan shalat di pinggir jalan, pemerintah Prancis berniat membatasi kebebasan warga Muslim dalam menunaikan kewajiban agama mereka.

Menteri Dalam Negeri Prancis, Claude Guéant, yang dikenal sebagai salah satu politisi think-tank politik anti-Islam di negara ini, menetapkan peraturan baru melarang pelaksanaan shalat jamaah di pinggir jalan.

IRNA melaporkan, koran Le Parisien dalam hal ini menulis, Guéant mengatakan, "Kami tengah mencari cara untuk melarang penunaian shalat berjamaah di pinggir jalan."

Mendagri Prancis mengemukakan pernyataan itu di saat penunaian shalat berjamaah di pinggir jalan, sangat jarang terjadi, dan biasanya hanya dilakukan di wilayah-wilayah yang memiliki fasilitas sangat terbatas atau batasan yang dilakukan pemerintah. Selain itu, warga Muslim Prancis juga menunaikan shalat berjamaah itu tanpa mengganggu orang lain.

Menjawab pertanyaan soal sedikitnya jumlah masjid di Perancis, Guéant mengatakan, di Prancis dapat dibangun masjid yang lebih banyak. Namun Guéant tidak memberikan keterangan lebih rinci bagaimana masjid-masjid tersebut dapat dibangun.

Di kota Nice misalnya, hanya terdapat dua masjid, dan warga Muslim di kota itu harus menempuh jalan jauh untuk pergi ke masjid. Namun masalah yang paling penting adalah bahwa kedua masjid itu tidak mampu menampung seluruh warga Muslim yang hendak menunaikan shalat berjamaah.

Terkait implementasi larangan shalat berjamaah di tepi jalan itu, Guéant menjelaskan, "Harus ada cara untuk menghentikan shalat berjamaah di tepi jalan, dan saya secara pribadi memprioritaskan penggunaan "kekuatan" dalam menjalankan ketentuan tersebut.

Guéant hingga kini telah berulangkali menarget umat Islam, termasuk penilaiannya terhadap peningkatan jumlah warga Perancis yang memeluk agama Islam. Kondisi ini menurut Guéant sangat disayangkan dan akan menjadi kendala serius bagi Perancis.

Sejumlah politik anti-Islam dalam pemerintahan Perancis yang beberapa waktu lalu melarang penggunaan burka, telah memasuki tahap baru yang lebih serius. Kebijakan itu direaksi negatif oleh opini umum Barat.

Laurent Booth, saudara perempuan istri mantan perdana menteri Inggris, Tony Blair, dalam wawancaranya dengan IRNA, menepis klaim para pejabat Prancis bahwa kaum perempuan yang mengenakan burka merupakan ancaman teror dan keamanan.

Dikatakannya, "Kaum perempuan berjilbab sebetulnya memang merupakan ancaman bagi negara-negara Barat. Namun ancamannya tidak dalam bentuk kekerasan seperti yang diklaim oleh para politisi Barat, melainkan karena busana Muslimah pada hakikatnya telah menyoal kebebasan kaum perempuan di Eropa dan Amerika."

republika.co.id


Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
AMSTERDAM--Peristiwa jarang terjadi di Belanda. Gara-garanya rencana parlemen Belanda melarang penyembelihan hewan tanpa dibius. Setelah rencana ini diprotes kaum muslim, kini rencananya diprotes kaum Yahudi.

Jadilah Islam-Yahudi kini ada ada di satu kelompok yang sama. Menurut Partai untuk Hewan di Belanda, pembiusan perlu supaya hewan tidak menderita sakit. Jadi ada kesan seolah penyembelihan ritual itu barbar.

Yahudi mengistilahkan penyembelihan itu sebagai kosjer sementara istilah Islamnya halal. Menurut ajaran Yahudi, supaya daging itu kosjer, hewan harus disembelih. Begitu juga dalam Islam, supaya daging halal, maka hewannya harus disembelih sesuai syariat Islam.

Menurut para rabbi menyembelih hewan secara ritual itu tidak barbar. Pendapat ini juga didukung tokoh Islam di Belanda. Yasin Forqani, imam muda asal Maroko, juga mengatakan menyembelih secara Islam tidak menyiksa hewan.

Mungkin banyak orang bertanya-tanya, kok di Belanda pemeluk agama Yahudi dan muslim bisa bekerja sama. Menurut KH Hambali Maksum , seorang ustad atau kiai di Persatuan Muslim se-Eropa atau PPME, di Den Haag, kerjasama Yahudi-Muslim bukanlah hal yang baru dan aneh.

Ia mengklaim, dalam beberapa hal Yahudi dan Islam justsru lebih dekat ketimbang Islam dan Kristen. "Islam dan Yahudi lebih banyak persamaannya dibanding Islam dengan Kristen," katanya.

Sebagai contoh, lanjutnya, Islam dan Yahudi sama-sama tidak mengakui penyaliban Isa atau Yesus. Dan dari segi syariat Yahudi dan Islam sama-sama mengharamkan babi dan mewajibkan penyembelihan hewan.

Namun ia menegaskan, yang menjauhkan jarak antara Yahudi dan Islam adalah masalah politis, tambah ustad jebolan Irak ini. "Ya terutama karena kasus Israel," jelasnya. Dalam masalah politik, tambahnya, justru Yahudi dan Kristen bersatu menyerang Islam.

Terakhir Hambali mengatakan, ia pribadi tidak dilibatkan untuk mendatangi Parlemen Belanda memprotes rencana pembuatan UU pelarangan menyembelih tanpa bius ini. "Seandainya ada keterlibatan, maka PPME-lah yang sewajarnya dilibatkan," katanya.

republika.co.id


Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
Fobia Islam kembali subur di Amerika Serikat. Belum lama ini, seorang bocah ditarik jilbabnya oleh rekan satu sekolah mereka, hingga lehernya terluka. Akankah Muslimah menanggalkan jilbabnya?

Saba Al-Khataria menggeleng. Penerima beasiswa Fulbright asal Yaman ini justru mengaku bangga mengenakan selendang menutupi kepala dan lehernya. "Saya nyaman dengan pakaian ini," kata gadis yang mengajar bahasa Arab di Universitas Stetson dan mengambil beberapa kursus. Ia pagi itu berbicara dalam diskusi panel tentang "Perempuan dalam Islam" dan pengalaman pribadi mereka di kampus.

"Saya dapat menemukan banyak cara untuk menjadi cantik dengan tetap berjilbab," kata lajang 26 tahun. Resepnya, dengan memakai warna favoritnya. "Untuk terlihat cantik, saya tidak harus menunjukkan tubuh saya menjadi seksi."

Al-Khataria, yang akan segera menyelesaikan tugasnya dan kembali ke negeri asalnya menyatakan, ia ingin orang "untuk melihat pikiran saya, bukan tubuh saya."

Dia mengatakan sempat gamang saat ruangan yang penuh dengan mahasiswa di Uni Carlton pada hari Selasa saat pertama dia datang ke Stetson. Dia takut orang akan berpikir ia adalah seorang teroris atau "melihat saya sebagai alien".

"Saya mencintai jilbab saya. Saya sangat bangga menjadi seorang Muslim," katanya. "Ini sangat berarti bagi saya."

Minggu kedua, katanya, ia menyadari "orang-orang tidak melihat saya dan orang-orang pemahaman yang lebih dan berpikiran terbuka."

Ia meminta publik untuk melihat gaya berbapakain seperti halnya musik yang berbeda. "Tuhan menciptakan kita dengan bahasa yang berbeda dan warna yang berbeda. Ini sangat menarik," katanya.

Al-Khataria tampil sebagai pembicara bersama dua perempuan berjilbab lainnya, termasuk seorang mahasiswa di Stetson University dan University of Central Florida. Mereka mengatakan komunitas kampus lebih terbuka menerima perbedaan, ketimbang di bandara atau di tempat umum dimana orang-orang kerap bersikap kasar atau menatap penuh curiga.

Para wanita mengatakan mereka hanya ingin orang-orang memahami budaya mereka dan agama Islam. Tiga wanita ini mengatakan mereka tidak tertindas, mereka memakai jilbab mereka sebagai pilihan dan tidak akan dihukum jika mereka memilih untuk tidak menutupi rambut mereka.

Al-Khataria mengatakan, agama Islam memberikan wanita banyak hak. Dia mengatakan mereka dapat bekerja dan menyimpan semua uang yang mereka peroleh, sedangkan kewajiban mencukupi kebutuhan rumah tangga ada pada pria. "Muslimah menjadi seperti ratu atau putri," ia tertawa.

Mahdiya Fazel, 20, seorang mahasiswa tingkat dua Universitas Stetson dan presiden dari Himpunan Mahasiswa Islam, datang ke AS sekitar lima tahun yang lalu dari Afrika Timur. Dia dan keluarganya tinggal di Lake Mary.

Fazel mengatakan dia memilih untuk memakai jilbab karena dia suka yang unik. Dia mengaku tak terganggu kendati dia dan keluarganya selalu berhenti di bandara untuk pemeriksaan acak.

Fazel mengatakan sebelum diskusi panel bahwa beberapa temannya telah mengatakan lelucon teroris, tapi baginya tak terlalu dianggap serius.

Masuma Virji, 34, seorang mahasiswa di University of Central Florida dan direktur Amerika Muslim Foundation di Lake Mary, mengatakan dia lahir di Kuwait dan pergi ke Inggris dengan orangtuanya selama Perang Teluk sebagai pengungsi. Salah satu dari tiga putrinya dipindahkan ke sebuah sekolah Islam swasta karena dia selalu pulang dalam kondisi menangis karena dilecehkan teman-temannya.

Dia mengatakan jilbab adalah simbol dari kerendahan hati . Dalam islam, Muslimah masih bisa memiliki "selera mode" seperti memakai sepatu hak tinggi atau gaya yang berbeda.

"Ini lebih penting untuk mendefinisikan diri siapa Anda, bukan oleh apa yang Anda kenakan," kata Virji.

( republika.co.id / pumitabusan.com )


Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
Saya menjadi Muslim sebab ada banyak alasan baik, namun yang terpenting, saya ingin dekat dengan Tuhan dan menerima pengampunan dan penyelamatan abadi," tulis Ismail Abu Adam di akun YouTube miliknya. Padahal jauh sebelum menyatakan itu, Ismail yang awalnya penganut Kristen taat, ingin melakukan misi penginjilan ke komunitas Muslim yang selama ini ia pikir harus diselamatkan.

"Saya lahir besar sebagai Kristen. Tetapi dasar saya adalah Katholik Roma," kata Ismail. "Saya selalu meyakini Yesus adalah Tuhan dan saya berikan hidup saya kepadanya," tuturnya.

Ismail meyakini Yesus adalah penyelamat dan ia juga mempercayai peristiwa kematian, penyaliban hingga kebangkitan Yesus. "Juga konsep dosa asal, seratus persen semua itu saya yakini sebagai kata-kata tuhan," ungkap Ismail.

Sebagai penganut taat, ia pergi ke gereja setiap minggu dan aktif dalam kegiatan peribadatan. Bahkan ia kerap mengkotbahi teman-temanya dan mengajak mereka yang beberbeda keyakinan untuk mempercayai agama yang ia anut.

Pada awal usia 20-an, Ismail mulai tertarik melebarkan kotbah ke umat Muslim. "Saya besar, tinggal di Amerika Utara. Di sana saya sangat jarang bertemu Muslim, yang ada hanyalah kaukasia dan kristen, jadi saya ingin menyakskan Kristen bisa disebarkan ke komunitas Muslim," ujarnya.

Sebelum benar-benar turun ke lapangan dan bersentuhan langsung dengan Muslim, Ismail memutuskan mengawali dari dunia maya. Ia mencoba mencari celah bagaimana Kristen bisa disebarkan lewat media tersebut.

Ketika menelusuri internet itulah ia menemukan dan menyaksikan video yang ia anggap menarik; debat antara seorang Muslim dan penginjil. Muslim itu dari Afrika Selatan bernama Ahmad Deedat. Lewat debat, Ismael menyadari bila ia sangat paham injil. "Ia selalu menang dan mampu mematahkan serta membuat sanggahan jitu terhadap penginjil dari setiap aspek," tutur Ismael.

"Ia mematahkan argumen bahwa dosa asal itu tidak ada, bahwa Kristen bukan kata-kata Tuhan, serta menunjukkan bahwa Kristen adalah doktrin yang salah karena dibuat oleh intepretasi selip, sudah mengalami fabrikasi, modifikasi ditambah dan juga dikurangi oleh penulisnya," kata Ismail lagi.

Dedat, menurut Ismail, juga menyinggung doktrin trinitas, kebangkitan, penyaliban. "Terasa betul argumen lawan (penginjil-red) sangat lemah dan mudah dipatahkan. Harus saya akui, jujur saya tidak suka Ahmad Deedat saat itu," ungkap Ismail.

Ia bahkan frustasi dengan pembicara dari kubu Kristen. "Ia memegang gelar PhD di bidang teologi Kristen, tapi ia tak bisa mematahkan balik argumen Ahmad Deedat yang hanya bicara sendiri dan hanya didukung oleh Al Qur'an."

Saat itu Ismael berpikir Deedat tentu menggunakan Injil untuk membantah doktrin Kristen. Ia pun tergugah untuk mempelajari Kristen lebih lanjut dengan semangat kelak ia akan membantah argumen-argumen Ahmad Deedat.

Ismael mengaku tipe orang dengan pemikiran skeptis. "Saya sulit percaya dan meyakini sesuatu jadi saya perlu memelajari dan menyelediki sendiri untuk memahami dan meyakini sesuatu," ujarnya.

Saat memutuskan untuk lebih mendalami Kristen ia memilih dari prespektif Islam. "Sebelumnya saya tak pernah melakukan itu, memelajari Kristen dari prespektif selain Kristen dan Deedat benar-benar mengonfrontasi pemahaman saya," ungkap Ismail.

Ismail pun mengkaji Injil dan doktrin Kristen dari Islam. Ia memelajari keabadian, konsep trinitas, penyaliban Yesus, konsep juru selamat hingga kebangkitan, dosa asal. "Apakah benar injil adalah kata-kata tuhan," tuturnya.

Ketika mendalami Al Qur'an Ismail menyadari bahwa argumen Deedat ternyata benar. "Saya tiba-tiba merasa berada di jalan yang salah. Kristen bukanlah kata-kata Tuhan. Ini benar-benar sebuah tamparan keras bagi saya" kata Ismail.

"Saya telah menganut Kristen bertahun-tahun, saya lahir sebagai Kristen dan menjadi seorang Katholik selama 20 tahun, tiba-tiba semua yang saya yakini berbalik dari atas ke bawah. Tentu ini merupakan guncangan besar," tuturnya.

Saat itu belum timbul keinginan Ismail untuk menjadi Muslim. "Yang saya inginkan saat itu mengetahui secara mendasar kebenaran sesungguhnya," ungkapnya.

Islam pun mulai ia pejalari. Dari sana ia memahami Muslim hanya mempercayai satu tuhan dalam konsep bernama tauhid. Monoteisme, itulah kesimpulan yang ia peroleh dari agama Islam. "Mereka memanggil tuhan dengan Allah, mereka percaya Yesus adalah nabi, seorang messiah yang mengabarkan kebenaran saat dibangkitkan lagi, itu juga keyakinan besar yang saya anut," kata Ismail.

Lebih dalam mengkaji, Ismael menemukan konsep pengampunan dan penyelamatan Tuhan. Ia memahami pengampunan dalam Islam diperoleh dengan cara beriman kepada Tuhan, melakukan ajaran-Nya dan berbuat kebaikan sebagai wujud iman.

Ismail juga mengetahui bahwa Muslim mempercayai ada nabi setelah Isa yakni Muhammad. "Mereka meyakini itu sebagai kata-kata Tuhan dan semua ada dalam kitab yakni Al Qur'an," ujarnya. "Ini sesuatu yang baru bagi saya. Saya pernah tahu Islam, tapi tidak mendetail."

Saat itu Ismail mengaku mulai muncul rasa suka terhadap Islam. "Muslim mempercayai keberadaan Yesus. Bagi saya itu adalah sebuah tautan antara Islam dan Kristen dan itu membuat saya merasa nyaman. Saya seperti menemukan batu pijakan," tutur Ismael.

Begitu mengetahui bagaimana Muslim meyakini Tuhannnya, bagaimana Nabi diutus membawa pesan, Ismail merasa dilahirkan untuk mempercayai itu. Ia pun memutuskan pergi ke masjid. "Saat itu saya pindah ke kota kecil dan di kota itu ada sebuah masjid. Saya ketuk pintunya dan berkata saya ingin berbicara dengan seseorang tentang Islam," tutur Ismail.

Setelah itu Ismail rutin meyambangi masjid tersebut saban minggu untuk berdiskusi dengan seorang imam di sana. Sang imam memberinya buku-buku bacaan tentang Islam dan juga biografi Rasul Muhammad. saw. "Ia meladeni dan menjawab semua pertanyaan-pertanyaan saya," kata Ismail.

Hingga suatu hari, sang Imam berkata kepadanya "Saya tidak ingin kamu menjadi Muslim kecuali kamu benar-benar yakin dengan agama ini." Mendengar itu Ismael lagi-lagi mengaku terkejut. "Selama saya menjadi Kristen saya selalu bertemu kotbah dan juga berkotbah untuk mengajak seseorang menjadi Kristen. Setiap Kristen selalu mencoba mempengaruhi seseorang menjadi Kristen," tuturnya. "Hampir tidak mungkin Kristen berkata, 'Saya tidak ingin kamu menjadi Kristen kecual kamu yakin dan kembalilah kepada saya jika kamu sudah yakin'."

Ismail justru tertantang dengan ucapan sang imam. Apakah ini memang jalan sesungguhnya? "Ini justru menggelitik saya untuk mengetahui apakah Islam itu memang yang benar, yang harus diyakini? Sungguh tak ada yang memaksa saya untuk menjadi Muslim," tuturnya. "Saya melihat dalam Islam terdapat kebenaran dan itu tampak jelas sebagai cara hidup yang diinginkan Tuhan bagi saya," ujarnya.

Ketika Ismail mengingat Injil kembali, justru ia menemukan fakta Yesus yang diyakini sebagai tuhan tak pernah mengklaim dirinya adalah tuhan dan menyeru pengikutnya untuk menyembahnya. Membandingkan lebih jauh lagi, dalam Al Qur'an, Ismail menemukan janji pengampunan Allah akan diberikan bagi orang yang beriman, namun di Injil, kata 'janji' itu tak ada.

"Pengampunan dan penyelamatan diberikan Allah karena Ia mencintaimu, karena engkau bertobat, beriman kepadanya dan melakukan apa yang ia kehendaki. Itu sungguh jelas dan sederhana," kata Ismail. Sementara di Kristen, menurut Ismail, penyelamatan cukup sulit bagi pemeluknya.

"Pertama anda harus meyakini dahulu peristiwa pembunuhan kejam dan penyaliban seseorang yang tak berdosa, di mana darah ditumpahkan demi menyelamatkan dosa anda. Anda diciptakan dengan dosa asal. Tuhan menempatkan diri anda di dunia bersama dosa dalam hati atau jiwa anda. Semua itu justru tidak mencerminkan keadilan Tuhan," paparnya.

Ismail menilai pengampunan dan penyelamatan di Islam lebih masuk akal. "Pengampunan adalah milik Tuhan, pemberian Tuhan karena cinta, karena kita meminta kepada-Nya, karena kita meyakini-Nya," ujarnya. "Memang di Injil juga ada kata-kata yang mengandung kebenaran. Tetapi Islam lebih superior dan secara logika benar. Bagi saya itu sangat mengagumkan," imbuhnya.

Padahal selama ini Ismail selalu membayangkan Islam sebagai agama kekerasan, seperti menganjurkan pembunuhan. "Tapi ketika saya membaca Al Qur'an saya menemukan banyak ketenangan, kalimat mengandung kedamaian, kesunyian dan pencerahan. Karena itulah saya memutuskan untuk menjadi seorang Muslim.

Kini Ismael meyakini Allah adalah tuhannya dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada-Nya. "Ia adalah raja sekaligus penyelamat saya di dunia dan akhirat. Dengan ini saya pun meyakini Yesus membenarkan ajaran Yesus sebagai seorang Muslim," ujarnya.

Saat ini Ismael mengambil disiplin Kajian Islam di perguruan tinggi. Dalam sepuluh tahun terakhir ia telah bepergian ke enam negara bermayoritas Muslim dan membaca puluhan buku-buku tentang Islam dan Perbandingan Agama. Ia bahkan sudah cukup fasih untuk berbincang dalam Bahasa Arab. Dalam akun YouTube-nya Ismail menulis, "Saya mencintai Allah karena Ia yang pertama kali mencintai saya."

sumber: republika.co.id


Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
Pusat Kebudayaan Islam yang khusus memberikan pendidikan anak-anak di Maida Hill, London Barat terancam ditutup. Pasalnya, Dewan Kota Harrow Road, Westminster menolak perpanjangan perencanaan hak guna bangunan setelah izin penggunaan bangunan habis tahun ini.

Padahal komunitas Muslim yang beralamat di Saltram Cresent itu biasa menggunakan bangunan pusat kebudayaan Islam guna melakukan aktivitas keagamaan dan pendidikan. Keputusan untuk menolak perpanjangan itu disetujui 109 anggota Dewan Kota.

Putusan itu merujuk pada keberatan warga yang merasa keberatan dengan polusi suara yang disebabkan pengeras suara yang biasa digunakan untuk mengumandangan azan. Pertimbangan lain, keberadaan pusat kebudayan Islam di lokasi tersebut menyebabkan adanya kemacetan dan penuhnya tempat-tempat parkir.

"Kegiatan sudah dimulai pukul 03.30 pagi disaat saya beserta keluarga mencoba untuk tidur," komentar salah seorang warga lokal yang menolak disebutkan namanya kepada Hamhigh.co.uk, akhir pekan lalu. Dia juga mengatakan di tempat itu saat lalu lintas tengah padat dipenuhi dengan anak-anak. Kondisi itu dianggap sangat membahayakan. "Kadang kala mereka memaksakan diri menyeberang jalan. Padahal itu sangat berbahaya .Ketika saya bertanya kepada mereka, saya justru mendapat jawaban yang tidak mengenakan," kata warga tersebut.

Dari pertimbangan Dewan Kota, lokasi tersebut sudah tidak layak dari segi kesehatan dan keselamatan. Belum lagi masalah kebisingan yang disebabkan oleh aktivitas keagamaan yang berlangsung.

Dewan Kota juga menyoroti kekhawatiran adanya benturan antara komunitas Muslim dengan warga setempat saat kegiatan keagamaan berlangsung di Pusat Kebudayaan. Apalagi warga setempat, menurut pengamatan Dewan Kota, sudah menyatakan kegiatan yang dilakukan melebihi "kebutuhan" yang seharusnya.

Meski begitu, tidak semua warga lokal setuju dengan penolakan izin penggunaan bangunan. Alasannya, kondisi itu tercipta lantaran ketiadaan lokasi alternatif di kawasan itu. Menurut warga lokal yang tidak setuju dengan putusan Dewan Kota, komunitas Muslim tidak mutlak disalahkan.

Sebab mereka tidak diberikan arahan oleh Dewan Kota sehingga bisa mencegah protes dari warga lokal. " Saya tidak bisa memahami bagaimana warga bisa bermasalah dengan keberadaan bangunan ini (pusat kebudayaan Islam). Padahal ada sekitar lima pub dekat sini yang menyebabkan gangguan yang lebih dari mereka," kata dia.

Wajar, kata warga tersebut, bila komunitas Muslim merasa tidak mengganggu warga setempat. Menurutnya, Dewan Kota harus lebih pro aktif dalam mengatur kebutuhan komunitas Muslim dan warga setempat. "Kita membayar pajak. Jika Dewan Kota tidak menyediakan apa yang seharusnya mereka berikan. Sudah tentu kami hanya akan bertindak sesuai dengan kebutuhan sendiri," kata dia.

Salah seorang anggota Dewan Kota Harrow Road, Rush Bush mengatakan keberadaan bangunan itu sebenarnya memberikan kontribusi yang sangat positif. Mereka berusaha memastikan anak-anak untuk belajar bagaimana menjadi seorang Muslim di negara ini.

"Tapi menurut saya, bangunan itu berada di lokasi yang tidak pantas dan penolakan yang terjadi sangat tepat. Ada lokasi yang pantas untuk berkumpul, itu ruang sempit dan mereka layak mendapat lokasi lebih baik," kata dia.

Bush berjanji akan memberikan bantuan kepada komunitas Muslim untuk mendapatkan lokasi yang layak. Namun, usaha tersebut mungkin membutuhkan waktu.

sumber: republika


Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) Selasa (12/4) mendukung hak orang untuk mengekspresikan "keyakinan agama melalui pakaian (menurut keyakinan) agama"-nya. Hal itu dikatakan terkait kepolisian Prancis yang mendenda seorang wanita karena memakai pakaian yang menutup seluruh wajah.

Juru bicara Deplu AS Mark Toner membela kebebasan beragama dan bereksprersi, tapi tak sampai mengkritik larangan Prancis pada pengenaan pakaian yang menutup penuh wajah, termasuk niqab atau cadar.

"Saya akan merujuk anda ke pemerintah Prancis untuk mendapatkan penjelasan lengkap mengenai undang-undangnya, tapi kami mendukung kebebasan beragama dan berekspresi, dan itu mencakup hak untuk mengekspresikan keyakinan agama melalui pakaian keagamaan," katanya. Ia menekankan bahwa Prancis adalah "sekutu sangat dekat" AS.

Polisi Prancis telah mendenda seorang wanita karena memakai kerudung Islami yang menutup seluruh wajah, pelaksanaan larangan yang pertama dilaporkan terhadap pakaian itu pada hari Selasa, ketika larangan itu mulai diberlakukan, kata satu sumber polisi.

Wanita muda itu, lahir pada 1983, didenda 150 euro (216 dolar atau kira-kira Rp 2 juta) "tanpa insiden" pada Senin malam di sebuah tempat perbelanjaan di Mureaux, di baratlaut Paris, kata sumber tersebut, tanpa menjelaskan mengenai apa tepatnya yang wanita itu pakai.

republika.co.id


Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
Baru-baru ini Turki tengah mengalami sebuah sejarah besar dan fenomenal. Seorang pendeta Yahudi Turki terkemuka, Aaron Kohen, bersama keluarganya memutuskan diri mereka untuk memeluk agama Islam.

Harian Turki berbahasa Arab, Akhbaralaalam (5/11) mengabarkan, Kohin (45) dan keluarganya mengikrarkan keislaman mereka di hadapan mufti Istanbul, Syaikh Bey Oglu, sejak sebulan silam. Namun, mereka baru mengumumkannya ke khalayak luas pada awal bulan ini.

“Saya sangat menghormati ketiga agama samawi. Agama Islam adalah agama yang memeluk semuanya. Asas inti ketiga agama hadir dalam Al-Quran,” ujar Kohen, sebagaimana dikutip Harian Hürriyet.

Kohen juga mengatakan, bahwa ajaran dan syari'at agama Islam benar-benar memuat, melengkapi, dan menyempurnakan syari'at agama samawi sebelumnya, yaitu Yahudi dan Kristen. "Dalam kitab suci Al-Quran, sesungguhnya terkumpul ajaran-ajaran mulia agama-agama sebelumnya," tambah Kohin.

Terkait alasan mengapa Aaron Kohen memilih Islam, pendeta muda yang mengaku menghaiskan hampir 20 tahun di kehidupan sinagog Istanbul itu mengatakan, dirinya telah mengkaji secara mendalam antara akidah dan syari'ah Yahudi, Kristen, dan Islam.

"Dan saya memutuskan untuk memeluk Islam karena saya dan keluarga saya ingin mendapatkan kebahagiaan hidup sejati," tegasnya.

Kohen memeluk Islam bersama istrinya, Filori dan anaknya. Sikapnya berganti agama sempat mengundang kecaman. Bahkan untuk menebus keislamannya, Kohen harus menghadapi beberapa tantangan dari komunitas Yahudi nya terdulu.

"Saya banyak menerima kritik dan kecaman dari saudra-saudara Yahudi saya," ujar Kohen. “Saya tidak peduli akan reaksinya. “Kedamaian dalam hati saya jauh lebih penting bagi saya,” tambahnya.

Turki tercatat sebagai negara Muslim yang memiliki sejarah gemilang terkait hidup berdampingan dengan umat Yahudi. Ketika orang-orang Yahudi mengalami pengusiran di Spanyol (abad ke-16 M), dan negara-negara Eropa menolak untuk menerima mereka, justru kekaiasran Islam Turki-Utsmani-lah yang dengan sukarela membukakan pintu untuk menolong mereka.

Hingga saat ini, populasi umat Yahudi di Turki terbilang signifikan. Di Istanbul saja, terdapat sekitar 200.000 pemeluk agama Yahudi. Yahudi Turki, sebagaimana yahudi-Yahudi yang hidup di negara-negara Muslim lainnya, disebut juga sebagai "Yahudi Timur". [akhbar/hurriyet/qantara/ atjeng/cha/www.hidayatullah.com]


Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit

Di sela-sela konferensi internasional untuk membela kanjeng Nabi Muhammad di Kuwait ulama kharismatik Syeikh Yusuf al-Qardhawi, menyerukan persatuan Islam guna mewaspadai kristenisasi



Hidayatullah.com--Menjadi sangat disayangkan ketika di tengah-tengah pelbagai macam masalah dan krisis multidimensi yang kian melilit, umat Islam justru tidak bersatu dan bahu membahu untuk menyelesaikannya bersama-sama.

Demikian disampaikan ulama kharismatik dunia Islam, Syeikh Yusuf al-Qardhawi, di sela-sela konferensi internasional untuk membela kanjeng Nabi Muhammad (al-Mu'tamar al-Alami li Nashrah an-Nabi) yang digelar di Kuwait sejak awal bulan kemarin.

Ketua umum Persatuan Ulama Muslim Internasional itu juga menghimbau kepada umat Islam agar lebih bersungguh-sungguh menyebarkan dakwah ajaran agama Islam, dengan salah satu kunci utamanya yaitu saling bersatu dan memperdalam pemahaman agama mereka.

Di samping itu, Qardhawi juga mengingatkan kepada umat Islam, di Sudan khususnya, untuk mewaspadai praktek Kristenisasi (Tanshir) yang marak di bagian selatan negeri hitam tersebut. "Kristenisasi di Sudan bukan isapan jempol, tetapi tantangan yang benar-benar nyata," ungkap Qardhawi.

Terkait seminar yang mengusung tema besar "Membela Sosok Nabi Muhammad", Qardhawi mengatakan bahwa salah satu wujud pembelaan umat Islam kepada Nabi mereka adalah dengan memperdalam pemahaman mereka akan agama Islam, di samping memperdalam keimanan dan kecintaan kepada beliau. [alm/ahbar/iol/atjeng/www.hidayatullah.com]



Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
AFP
Turin - Gelandang Juventus Mohamed "Momo" Sissoko mengaku kesulitan menunaikan ibadah puasa seraya bermain sepakbola. Tapi karena berpuasa di bulan Ramadhan adalah kewajiban, dia ikhlas sekuat tenaga menjalankannya tanpa merasa tersiksa.

Di bulan Ramadhan, umat Muslim seluruh dunia menjalankan ibadah puasa menahan hawa nafsu. Itu termasuk tidak makam minum dari terbit sampai terbenamnya matahari.

Sebagai penganut agama Islam, Sissoko tak mau absen berpuasa di bulan penuh berkah itu. Masalahnya, dia mengaku sedikit sulit menyeimbangkan antara kewajiban sebagai umat muslim dengan tugasnya sebagai pemain sepakbola, karena puasa mempengaruhi kinerjanya di lapangan.

"Itu sangat disayangkan karena saya tahu tidak memberikan yang terbaik saat melawan Cagliari (akhir pekan lalu) karena saya sangat lelah," ujar Sissoko kepada La Gazzetta dello Sport yang dikutip Channel 4, Rabu (24/9/2008).

Sampai dengan Januari 2008 lalu, Sissoko masih membela klub Inggris, Liverpool. Alhasil inilah puasa pertama pemain asal Mali berusia 23 tahun itu bersama "Bianconeri".

"Semuanya berbeda. Tahun lalu saya baru pulih dari meningitis dan cedera pergelangan kaki jadi saya tak bisa menikmati Ramadhan. Tapi Ramadhan adalah kewajiban dan pastinya bukan semacam siksaan. Italia adalah lingkungan yang multi-kultur dan senang rasanya semua orang merasa menerima," tandas dia.

Kris Fathoni W - detiksport


Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
Siapa yang tidak mengenal Napoleon Bonaparte, seorang Jendral dan Kaisar Prancis yang tenar kelahiran Ajaccio, Corsica 1769. Namanya terdapat dalam urutan ke-34 dari Seratus Tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah yang ditulis oleh Michael H. Hart.

Sebagai seorang yang berkuasa dan berdaulat penuh terhadap negara Prancis sejak Agustus 1793, seharusnya ia merasa puas dengan segala apa yang telah diperolehnya itu.
Tapi rupanya kemegahan dunia belum bisa memuaskan batinnya, agama yang dianutnya waktu itu ternyata tidak bisa membuat Napoleon Bonaparte merasa tenang dan damai.
Akhirnya pada tanggal 02 Juli 1798, 23 tahun sebelum kematiannya ditahun 1821, Napoleon Bonaparte menyatakan ke-Islamannya dihadapan dunia Internasional.

Apa yang membuat Napoleon ini lebih memilih Islam daripada agama lamanya, Kristen ?Berikut penuturannya sendiri yang pernah dimuat dimajalah Genuine Islam, edisi Oktober 1936 terbitan Singapura.

"I read the Bible; Moses was an able man, the Jews are villains, cowardly and cruel. Is there anything more horrible than the story of Lot and his daughters ?""The science which proves to us that the earth is not the centre of the celestial movements has struck a great blow at religion. Joshua stops the sun ! One shall see the stars falling into the sea... I say that of all the suns and planets,..."

"Saya membaca Bible; Musa adalah orang yang cakap, sedang orang Yahudi adalah bangsat, pengecut dan jahat. Adakah sesuatu yang lebih dahsyat daripada kisah Lut beserta kedua puterinya ?" (Lihat Kejadian 19:30-38)"Sains telah menunjukkan bukti kepada kita, bahwa bumi bukanlah pusat tata surya, dan ini merupakan pukulan hebat terhadap agama Kristen. Yosua menghentikan matahari (Yosua 10: 12-13). Orang akan melihat bintang-bintang berjatuhan kedalam laut.... saya katakan, semua matahari dan planet-planet ...."Selanjutnya Napoleon Bonaparte berkata :

"Religions are always based on miracles, on such things than nobody listens to like Trinity. Yesus called himself the son of God and he was a descendant of David. I prefer the religion of Muhammad. It has less ridiculous things than ours; the turks also call us idolaters."

"Agama-agama itu selalu didasarkan pada hal-hal yang ajaib, seperti halnya Trinitas yang sulit dipahami. Yesus memanggil dirinya sebagai anak Tuhan, padahal ia keturunan Daud. Saya lebih meyakini agama yang dibawa oleh Muhammad. Islam terhindar jauh dari kelucuan-kelucuan ritual seperti yang terdapat didalam agama kita (Kristen); Bangsa Turki juga menyebut kita sebagai orang-orang penyembah berhala dan dewa."Selanjutnya :

"Surely, I have told you on different occations and I have intimated to you by various discourses that I am a Unitarian Musselman and I glorify the prophet Muhammad and that I love the Musselmans."

"Dengan penuh kepastian saya telah mengatakan kepada anda semua pada kesempatan yang berbeda, dan saya harus memperjelas lagi kepada anda disetiap ceramah, bahwa saya adalah seorang Muslim, dan saya memuliakan nabi Muhammad serta mencintai orang-orang Islam." Akhirnya ia berkata :

"In the name of God the Merciful, the Compassionate. There is no god but God, He has no son and He reigns without a partner."

"Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tiada Tuhan selain Allah. Ia tidak beranak dan Ia mengatur segala makhlukNya tanpa pendamping."

Napoleon Bonaparte mengagumi AlQuran setelah membandingkan dengan kitab sucinya, Alkitab (Injil). Akhirnya ia menemukan keunggulan-keunggulan Al-Quran daripada Alkitab (Injil), juga semua cerita yang melatar belakanginya.

Referensi :1. Memoirs of Napoleon Bonaparte by Louis Antoine Fauvelet de Bourrienne edited by R.W. Phipps. Vol. 1 (New York: Charles Scribner's Sons, 1889) p. 168-169.http://chnm.gmu.edu/revolution/d/612/2. 'Napoleon And Islam' by C. Cherfils. ISBN: 967-61-0898-7http://www.shef.ac.uk/~ics/whatis/articles/napoleon.htm3. Satanic Voices - Ancient and Modern by David M. Pidcock, (1992 ISBN: 1-81012-03-1), it states on page 61, that the then official French Newspaper, Le Moniteur, carried the accounts of his conversion to Islam, in 1798 C.E


Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit