Duta Besar Paraguay untuk Indonesia, His Excellenty Caesar Esteban Grillon Conigliaro, menyatakan diri berhijrah menjadi mualaf, setelah mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan ribuan umat Islam di Masjid Istiqlal, Jakarta, selepas Shalat Jumat (29/9).

Prosesi pengucapan syahadat dibimbing langsung oleh Imam Besar Masjid Istiqlal, KH. Aly Mustafa Ya'qub, dan disaksikan oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Dr (HC) Suryadharma Ali. Caesar Grillon Mengatakan bahwa hijrahnya ke dalam agama Islam bukanlah karena paksaan, atau karena akan menikah dengan wanita muslimah, tapi memang karena hidayah dari Allah semata, didorong oleh kesadaran dari dirinya sendiri setelah meyaksikan kehidupan umat Islam di Indonesia. Hidayah itu, katanya, ditunjukkan Allah melalui jodoh yang ia dapatkan, yakni seorang muslimah Indonesia bernama Yuli Setyohadi.

Caesar mengucapkan syahadat dalam bahasa Arab, “Asyhadu anla Ilaha illa Allah, Wa asyhadu anna Muhammad ar Rasulullah”, katanya dengan terbata.

Selepas mengucapkan syahadat, Ali Mustafa Ya'qub memberikan nasihat dan beberapa buku panduan agama Islam. Prosesi pengucapan syahadat pria kelahiran Asuncion, Paraguay pada 1957 ini segera disambut pekikan takbir dari ribuan hadirin yang menyemut di depan mihrab Masjid Istiqlal.



Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
TANGERANG - Hidayah bisa datang kapan saja dan melalui medium apa saja. Siapa sangka, melalui film tentang peristiwa penyaliban Yesus Kristus, pemuda bernama Lianus Laiya, dipertemukan dengan Islam. Lianus muda yang tengah dipersiapkan untuk menjadi biarawan atau pelayan gereja, terilhami sejumlah pertanyaan yang selanjutnya menuntut dia mengenal dan mendalami Islam. "Karena Allah berkhendak, saya pun mendapatkan hidayah dan diselamatkan saya oleh Allah SWT untuk menjadi seorang Muslim,” kata dia kepada Republika.co.id.

Lianus Laiya, lahir 25 Oktober 1981 di Nias, Sumatera Utara. Dia lahir di tengah keluarga Katholik yang taat. Sebagian dari keluarganya merupakan pendakwah. Karena itu, tak heran, sebagai anak lelaki tertua, oleh keluarganya, Lianus dipersiapkan untuk meneruskan tradisi keluarga sebagai penggiat gereja.

“Namun, Allah SWT memalingkan langkah saya untuk mendapatkan hidayah,” ungkap dia.

Lianus besar di daerah dimana Muslim hanya sedikit jumlahnya. Inilah yang membuat Lianus tidak pernah mengenal Islam. Bahkan bila bertemu dengan simbol-simbol Islam seperti pakaian Muslim, maka tak tanggung-tanggung bakal dia bakar.

Suatu hari, ia menonton film penyaliban Yesus Kristus. Saat mengikuti film itu, Lianus melihat adegan Yesus saat memasuki gereja, secara spontan Yesus mengangkat kedua tangannya sembari memberikan ceramah kepada para murid-muridnya. Pertanyaan segera mengemuka dalam diri Lianus.

“Mengapa agama saya dalam kehidupan sehari-hari tidak sama dengan apa yang dilakukan Yesus, Misalnya saja, dalam gereja, Yesus berdoa sembari menengadahkan kedua tangan, bukan bernyanyi,” tanya Lianus dalam hati.

Rasa penasaran iu semakin bertambah ketika Yesus hendak ditangkap. Dalam film itu, cerita Lianus, Yesus mengatakan akan datang yang menggantikannya. Pernyataan Yesusdirenungkan betul oleh Lianus. Lalu dia secara spontan bertanya kepada pastornya. “ Siapa yang akan menggantikan Yesus?” Lalu seketika pastor menjawab “Messiah”. “Lho, Yesus kan Messias juga?” tanyanya kembali.

“Saya pun tidak pernah mendapatkan jawaban yang pasti, setelah itu," ujarnya.

***


Setamat SMP, Lianus diboyong pamannya ke Medan, Sumatera Utara. Kepindahannya dari Nias ke Medan, Lianus membawa dirinya tiga bekal pertanyaan. Pertanyaan pertama, mengapa cara beribadah agamanya tidak sesuai dengan Yesus. kedua, mengapa Tuhan bisa punya anak, lalu anak itu menjadi Tuhan dan kemudian meninggal. Ketiga, selama di Medan, Dia sering mendengar rekaman dai kondang yang menceritakan kisah para Nabi mulai dari Nabi Adam hingga ke Muhammad SAW. “Kok Islam bisa punya cerita seperti itu. Saya tidak tahu,” tanya.

Di Medan, Lianus tinggal di dekat Masjid. Secara otomatis, dia selalu mendengarkan pengajian tiap sore. Lianus yang tengah menginjak bangku sekolah menengah begitu senang memperhatikan umat Islam tengah berwudhu.

Tanpa sadar, apa yang dia lihat itu mirip dengan adegan film yang ia tonton. “Lho inikan yang saya lihat dari film tersebut. Saat itu, Nabi Musa AS meminta umatnya untuk membersihkan kaki, muka, tangan,” kenangnya.

Sejak itu, Lianus aktif mengikuti aktivitas masjid. Ia diterima dengan baik, kendati belum bersyahadat.

Perubahan Lianus dibaca sang paman. ia kemudian memboyong Lianus ke Riau.

Di Riau, Lianus bekerja di sebuah perusahan kertas. Selama di Riau, ia sempat melihat perilaku umat Islam yang tidak konsisten menjalankan ibadahnya. Dia pun memutuskan untuk tinggal dekat masjid. Lagi-lagi melalui masjid tersebut, Lianus mendengar kisah para nabi, termasuk Nabi Isa dan kisah Maryam.

Goncanglah keimanan Lianus. “Ketika saya merenung, ketika malam puncak. Saya tidak tidur. Saya pun minum terakhir kali. Setelah itu, saya niatkan diri untuk bertobat,” kenang Lianus.

Akhirnya, Lianus memutuskan untuk masuk ke dalam masjid. Kebetulan, ada salah seorang pemuda bernama Suryadi di sana. Ia menuntun Lianus pada Alquran. Oleh Yadi, Lianus diperlihatkan surat Al-Imran untuk menjawab pertanyaan pertama dan kedua. Lalu, Yadi, memperlihatkan Alquran surat Al-Maidah untuk menjawab pertanyaan ketiga. “Makin yakinlah saya, Alhamdulillah, saya bersujud kepada Allah SWT. Saya meminta disyahadatkan,” ungkap Lianus.

Dia pun dibimbing oleh Haji Amin dari Masjid Istiqomah mengucapkan dua kalimat syahadat lalu bergantilah nama menjadi Abdul Aziz Laiya.

Kabar Lianus masuk Islam segera terdengar oleh pamannya. Tak lama,orang tua Lianus mendengar kabar Keislaman Lianus. Keluarganya marah besar. Bahkan, sang paman tak segan memukul dan menendang dirinya. Lalu, oleh sang paman, dia dibawa kembali pada keluarganya. Oleh ayah dan ibunya, Lianus diancam tidak akan lagi diakui sebagai anak.

“Selama tiga bulan pertama memeluk Islam, saya menghadapi tendangan, pukulan, dan diceburkan ke kolam,” kata dia. Bahkan seorang pamannya menyiramnya dengan darah babi lalu dipaksa makan babi. Menurut sang paman, tindakan itu merupakan bagian dari ritual untuk mengembalikan Lianus kepada jalan yang benar.

"Dalam menghadapi tekanan bertubi, saya hanya bisa mengucapkan laa Illahalillah dan shalat," kata dia.

Saat itulah, Lianus merasa sendirian. Tidak ada yang membantu dirinya memperjuangkan Islam. “Terguncanglah saya saat itu,” kenang dia. Selama seminggu Lianus tidak shalat, seminggu itu pula iman Lianus babak belur; dirayu untuk kembali kepada ajaran agama sebelumnya.

Seorang Ustad bernama Sahabudin kemudian mendatangi dia dan memberikan nasihat. “Alhamdulillah, kembalilah saya kepada jalan Allah SWT,” ungkap dia.

Lianus kembali mendalami Islam. Dia kembali mengikuti berbagai majelis taklim yang digelar. Dia pun menjadi ketua remaja masjid di lingkungannya. Dia juga bertugas membimbing para mualaf . Lalu dipertemukanlah dia oleh Ustad Nababan, pengasuh pondok Pesantren Pembina Muallaf Annaba Center, Tangsel, Banten.

Lianus sempat kembali ke Nias lantaran menerima kabar bahwa ayahnya tengah sakit. Ia diminta kembali ke agama sebelumnya, agar sang ayah sembuh.

Ia menggeleng. "Dengan ilmu rukyah yang pas-pasan, hanya mengandalkan bacaan basmalah, surah al-Fatihah, al -Ikhlas, al-Alaq, dan ayat kursi. Subhanallah, ayah saya sembuh. Yang hadir menyaksikan kesembuhan ayah saya terkejut. Padahal waktu itu saya belum bisa baca Alquran, saya baru belajar mengaji," kenangnya.

Kini, Lianus merasakan ketenangan batin luar biasa dalam memeluk Islam. Dia merasa selalu dimudahkan dalam beraktivitas. “Ketika sedih, dengan berzikir, hilanglah kesedihan. Ketika tengah bermasalah, saya baca Alquran maka datanglah inspirasi,” kata dia.

sumber : republika.co.id


Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
LONDON - Paul Martin masih mahasiswa ketika ia memutuskan untuk masuk Islam di Manchester empat tahun lalu. Bosan dari apa yang ia lihat sebagai gaya hidup hedonistik dari banyak teman-temannya di universitas, ia mulai tertarik kepada apa yang dia sebut "penekanan Islam pada mencari pengetahuan". Seperti yang dilaporkan situs The Independent, pertemuan satu kalinya dengan seorang Muslim telah mengubah hidupnya.

"Aku menyukai cara para mahasiswa Muslim mengatur diri mereka sendiri. Sangat menyenangkan untuk berpikir tentang orang memiliki satu pasangan untuk hidup dan tidak melakukan apapun yang berbahaya untuk tubuh mereka," katanya.

Suatu hari, secara ia iseng-iseng membaca terjehan Alquran. "Aku kagum melihat penekanan besar Islam pada ilmu pengetahuan," akunya.

"Lalu aku dikenalkan oleh seorang teman Muslim, seorang dokter yang beberapa tahun lebih tua dariku. Kami pergi minum kopi dan kemudian beberapa minggu kemudian berjanji bertemu di kedai es krim," ujarnya.

Dalam pertemuan itu, ia menyatakan ingin menjadi Muslim. "Aku bersyahadat saya di sana, di toko es krim itu," ujarnya. Ia mengakui beberapa orang ingin menjadi semua formal dan melakukannya di masjid, tapi baginya, agama bukanlah hal yang fisik. "Agama adalah tentang apa yang ada dalam hatimu."

Ia mengaku tidak pernah ke masjid sebelum menjadi seorang Muslim. Baginya, masjid sedikit "menakutkan". Ia pernah mendengar pendapat, ke masjid dilarang mengenakan celana jins, T-shirt, dan jaket. "Sekarang di masjid saya di Leeds, berbagai bahasa yang diucapkan dan ada banyak mualaf," katanya. Dan, dengan beragam penampilan tentu saja.

Ia mengaku tak ada kendala berarti di keluarganya. "Dengan keluarga, aku melakukannya secara bertahap. Tidak hanya pulang dan mengatakan bahwa aku adalah seorang Muslim. Ada proses yang panjang sebelum aku bersyahadat, di mana aku tidak mau makan babi dan minum," ujarnya, yang mengaku selalu menghabiskan akhir pekan dengan makan malam bersama. bahkan, ibunyalah yang berinisiatif selalu mencari daging domba halal untuk keperluan itu.

Paul kini main mantap berislam. Apalagi beberapa tahun setelah bersyahadat, ia berkesempatan menunaikan ibadah haji.

sumber: republika.co.id


Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
JAKARTA - Tidak seperti mahluk cipta-Nya yang lain, manusia dibekali akal dan budi untuk berpikir. Sebagaimana yang dicontohkan Nabi Ibrahim AS, dengan segenap akal dan budinya, beliau mencari tahu siapa dirinya, dan pencipta-Nya. Dari proses berpikir itu, sang pencipta menuntun Nabi Ibrahim AS kepada satu jawaban, yakni Allah SWT, Dzat Maha Besar yang mengatur segalanya.

Layaknya Ibrahim mencari Tuhannya, begitu pula yang dialami Ahmad Sugiarto alias A Sen sebelum memutuskan memeluk Islam. sesuatunya. Dari rentetan proses yang dialami, A Sen menemukan jalan pada Allah SWT dan Islam. ”Hanya ada satu Dzat yang mengatur alam semesta ini. Yakni Allah SWT,” papar A Sen kepada Republika.co.id, saat menghadiri syukuran 20 tahun Yayasan Haji Karim Oei, Ahad, (10/4).

Saat masih menganut agama lamanya, A Sen melihat Islam
bukanlah sebuah agama. Karena waktu itu, menurut logika sederhana A Sen, kebanyakan agama yang dia tahu selalu menggunakan medium saat beribadah. Sementara ketika melihat umat Islam baik dalam keseharian ataupun melalui media massa, ia tidak melihat Islam menggunakan medium
berupa patung atau simbol lain saat beribadah. “Semua yang di depan itu (medium patung dan simbol lainnya) disembah. Tapi Islam, saya pikir, "Apa yang disembah, tak ada. Maka ini bukan agama", demikian pandangan saya waktu belum mengenal Islam,” ungkap A Sen mengisahkan.

Pemikiran A Sen tentang Islam secara perlahan terbentuk melalui buku-buku Islam dan ilmu pengetahuan. A Sen yang kritis, bertanya-tanya soal bagaimana alam
semesta ini terbangun.

Menurut pemahamannya, segala sesuatu tidak tercipta dengan sendirinya. Sebagai contoh saja, kata A Sen, bumi ini ada kehidupan lantaran keberadaan atmosfer. Dari atmosfer, air laut yang diserap matahari berubah menjadi awan lalu jadilah hujan membasahi bumi. Tanpa atmosfer, air laut bakalan kering, tidak akan ada kehidupan seperti yang terjadi di planet-planet lain. “Yang jadi pertanyaan, air itu tak pernah kering. Rupaya ada yang menahan yaitu atmosfer, lalu kenapa bisa begitu, jadi semua itu perputar, berarti ini ada yang mengatur. Saya saat itu cuma berpikir siapa yang mengatur? Waktu itu saya belum mengenal Allah, “ papar A Sen.

Alam, menjadi media A Sen merenung. Pertanyaan-pertanyaan kritis A Sen segera mengemuka. Misalnya saja, mengapa pohon cabai menghasilkan buah cabai yang pedas. Lalu mengapa
tebu menghasilkan rasa manis. “Kok bisa begitu? Padahal sama-sama diberikan pupuk dan air yang sama. Tidak mungkin diberi gula atau bahan pecampur lain. Lalu rasa manis dan pedas itu dari mana?"

Lalu, Asen merujuk pada dirinya sendiri. Pertanyaan kritis kembali menyeruak. “Rambut bisa terus tumbuh
panjang, sementara bulu mata tumbuh hingga pada batas tertentu. Lalu, kalau bulu mata tumbuh terus seperti rambut bisa repot manusia. Berarti
ini sudah ada yang mengatur lagi,” kata dia.

Menurut A Sen, pertanyaan-pertanyaan kritis yang lahir dari pikirannya tanpa disadari merupakan ilham atau hidayah. Saat itu, A Sen memang belum mengetahui jawban-jawaban itu sebelum akhirnya membaca kitab suci Alquran. Berjumpalah A Sen dengan
Alquran.

Dari Alquran, A Sen menemukan jawaban berupa dzat maha besar yang mengatur alam semesta ini yaitu Allah SWT. Dari Alquran pula, A Sen mengetahui bahwa apa-apa yang diciptakan manusia seperti asbak
termasuk medium-medium seperti patung tidak bisa melihat penciptanya.

“Kita buat gelas, gelas itu tidak bisa melihat saya, begitu pula dengan saya yang diciptakan Yang Maha Kuasa, saya tidak bisa melihat pencipta saya. Tapi ada dzat maha kuasa yang menciptakan, suatu saat nanti akan memberikan kesempatan pada manusia untuk melihat dia,” kata A Sen.

Usai mendapatkan jawaban hakiki tersebut, pemikiran kritis A Sen segera mengerucut pada sebuah kesimpulan bahwa agama yang hanya diterima Allah SWT hanyalah Islam. A Sen pun bingung. Sebab ia masih memeluk agama diluar Islam. “Ya, bagi saya, waktu itu, repot nih. Saya masih memeluk agama lain bukan Islam,” ungkap A Sen.

Berangkat dari kesimpulan itu, A Sen mulai belajar Islam secara sembunyi di kamarnya. Suatu ketika, saat A Sen membaca Alquran, dia mendapat ayat yang menyebutkan perintah kepada setiap Muslim untuk memeluk Islam secara kaffah. “Masuk Islamlah saya secara keseleuruhan. Orang tua saya ngamuk bukan main,” kata dia.

A Sen yang memutuskan mengucapkan dua kalimat syahadat tanpa dibimbing seorang ustadz, tanpa dihadiri Muslim lainnya. Di depan tembok kamarnya, ia berikrar menjadi Muslim.

Iapun menjelaskan pada keluarganya tentang keputusannya memeluk Islam. Ia mengatakan kepada
kedua orang tua, kakak dan adiknya, bahwa agama yang selama ini ia dan keluarganya peluk bukanlah agama. Yang harusnya disembah, adalah pencipta matahari, bulan, dan bintang. Bukan hasil ciptaannya yang disembah. Langkahnya memeluk Islam diikuti sang adik.

Namun, ia masih menyembunyikan keislamannya. Baru pada tahun 1996, dibimbing Ketua Umum PITI DKI Jakarta, Syarif Tanudjaja, ia mengucapkan dua kalimat syahadat kembali di masjid Lautze. Fondasi keimanan yang dibangun sedari awal kian sempurna ketika ia memperdalamnya di Masjid Lautze.

Di saat itulah, konsekuensi memutuskan menjadi Muslim mulai bermunculan. Sindiran, ejekan dan
sentimen terhadap dirinya berdatangan silih berganti baik dalam lingkup lingkungan sekitar rumahnya dan pekerjaan. Meski begitu, keyakinannya terhadap Islam tidak tergoyahkan. Bahkan kian memantapkan
hati dan pikirannya atas jalan yang ia pilih.

“Setelah masuk Islam, masya Allah, luar biasa. Allah memberikan hadiah kepada saya yang tidak kepalang tanggung," katanya.

Menurut A Sen, Islam memang diakui sulit untuk dipelajari tapi menjamin kebenaran hakiki. Sementara agama lain, kata dia, mudah dipelajari tapi hanyalah membawa pada kerugian. “Mau yang berat tapi benar atau mau yang mudah tapi salah. Kalau saya tentu memilih yang berat tapi benar. Disini, kehidupan manusia tidak berhenti di dunia, tapi ada kehidupan akhirat. Maka saya memilih Islam. Mendingan yang berat tapi menjamin saya kebenaran. Susah-susah dahulu tidak apa-apa,
yang penting bahagia kemudian,” katanya.

sumber : republika.co.id


Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
Perjuangan membutuhkan pengorbanan. Itu disadari betul oleh Syamsul Arifin Nababan sebelum mendirikan Pesantren Pembinaan Muafal Annaba.

"Yang namanya terjun di dunia dakwah, segala sesuatunya tentu tidak akan mulus-mulus. Semua Nabi mengalami hal yang sama," ujarnya kepada Republika.co.id, akhir pekan lalu.

Kondisi itu tak lantas menyurutkan langkahnya. Nababan meyakini keberuntungan yang dijanjikan Allah bagi siapa saja yang sungguh-sungguh dalam berjuang dan berkorban.

Ketika anda memutuskan masuk dunia dakwah anda akan mengalami cobaan yang berat. Saya sebagai orang yang berlatar belakang mualaf, menjadi dai, tentu lebih berat lagi tantangannya,” ujarnya.
Nababan menjelaskan para mualaf seperti dirinya yang segera terpanggil untuk berdakwah akan menghadapi dua tantangan yakni tantangan internal dan eksternal. Tantangan ekstrenal, kata dia, ada semacam kecurigaan dari pemuka agama yang sebelumnya dianut bahwa umatnya yang dahulu akan menjadi ancaman.

“Bagi mualaf yang berdakwah, yang saya rsakan bobot tantangan sangat tinggi karena tahu seluk beluk agama sebelumnya sehingga kadang dipandang ancaman dari agama sebelumnya,” kata dia.

Secara internal, setiap mualaf yang berdakwah akan menghadapi prasangka negatif. Prasangka itu menurut Nababan muncul dengan mengacu pada kisah Snouck Hurgronje, islamologi asal Belanda yang menghancurkan umat Islam lantaran berpura-pura memeluk Islam.

Jadi, kata Nababan, ada semacam trauma yang akhirnya menyebabkan prasangka buruk kepada mualaf yang hendak berdakwah. “Secara internal, cobaan yang kita hadapi adalah satu atau dua Muslim yang mencurigai saya menyusup dalam umat Islam untuk merusak Islam,” ungkap dia.

Selama berdakwah, Nababan pun tak luput dari merasakan vonis prasangka itu. Namun, tuduhan itu bukannya membuat dia kendur dalam berdakwah melainkan menjadi pelecut guna memperlihatkan kematangan komitmennya dalam berdakwah.

"Prasangka itu justru membuat saya begitu bersemangat untuk memperlihatkan komitmen dalam agama Islam. Ia mengaku tak terlalu khawatir dengan tantangan eksternal yang ia hadapi. "Yang penting, kita jangan sampai menyinggung agama lain, kita harus bijaksana," ujarnya Seperti dalam Alquran, ajakalah manusia ke dalam Islam dengan cara yang bijaksana."

sumber: republika.co.id


Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
Menari adalah dunia Denise Horsley. Hobinya itu mengantarkannya melanglang buana, mendapatkan penghasilan lumayan, dan menjadi asisten dosen di fakultas seni di sebuah universitas di London.

Wanita berusia 25 tahun ini lincah di atas panggung, dan sesekali berjilbab di kesehariannya. Tak ada yang menyangka, jebolan London College of Dance/Middlesex University tahun 1998 ini melalui pergulatan batin panjang sebelum memeluk Islam.

Perkenalannya dengan Islam dimulai saat ia duduk di bangku kuliah. Ia enggan menceritakan siapa yang mengenalkan pertama kali, namun peraih gelar sarjana tari dengan nilai tertinggi ini menjadi sangat ingin tahu belajar tentang Islam.

"Semakin saya membaca banyak tentang Islam, semakin saya mengakui agama ini sungguh masuk akal," katanya. Di sela-sela kesibukannya, ia kerap menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan Masjid Regent's Park hanya untuk membaca terjemahan Alquran.

Seperti Alkitab, Quran menyebutkan nabi, malaikat, mukjizat, perbuatan baik dan buruk, pahala dan hukuman, pertobatan dan pengampunan, surga dan neraka, Adam dan Hawa, Taurat, Injil dan banyak hal lainnya yang akrab baginya. "Namun pertanyaan yang telah berlama-lama mengendap dalam pikiran saya sejak sekolah Katolik akhirnya terjawab, tentang konsep ketuhanan," ujarnya.

Suatu saat di bulan Ramadhan tahun 2009, ia memberanikan diri datang ke ruang shalat di masjid itu. "Saya memutuskan untuk menghadiri shalat Taraweh selama bulan Ramadhan. Menuju masjid, di dalam mobil saya gugup, bagaimana saya harus bershalat," ujarnya mengenang.

Ia mengamati shalat berjamaah yang sungguh menyentuh hatinya. Tekad Denise untuk menjadi Muslimah tak lagi bisa terbendung. Pertanyaan pertama yang dilontarkannya, "Bisakah seorang penari menjadi Muslimah?"

Komunitas masjid menyambutnya dengan hangat. Denise pun menyatakan syahadat.

Kini, ia tetap menjadi penari, dan makin rajin belajar agama. "Keluarga saya menerima dan bahkan sangat bahagia, karena saya menemukan sesuatu yang membuat saya begitu bersemangat," ujarnya.

Ia menyatakan, citra Islam sangat tergantung pada bagaimana Muslim dan Muslimah bersikap. "Tuhan telah menciptakan Anda dan membawa Anda dalam perjalanan hidup Anda karena suatu alasan, jadi biarkan orang melihat keindahan Islam melalui Anda," ujarnya.

Sumber: republika.co.id


Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
"Pertanyaan itu saling berbalapan dalam pikiranku. Apakah ini akan membuatku menjadi seorang Muslim? Apa arti berislam setelah semua? Begitu gampangkah menjadi seorang Muslim? Dan apa yang terjadi setelah itu? Bagaimana jika aku menyesal?" ujar Myrtho, menceritakan apa yang berkecamuk dalam benaknya beberapa menit menjelang bersyahadat.

Bagi Myrto -- ia menolak menyebutkan nama belakangnya -- menemukan agama bukan terjadi dalam semalam. "Aku butuh waktu hampir sembilan tahun untuk percaya bahwa sebenarnya ada Tuhan dan memilih Islam sebagai cara untuk menyembah Dia," katanya.

Myrto memiliki kehidupan yang sangat keras. Ia mempunyai pengalaman traumatis pribadi yang membuatnya kerap frustrasi. Lari pada agama seperti yang disarankan banyak orang padanya? Nonsense. "Aku hampir sepenuhnya menolak kehadiran Tuhan atau apapun namanya dalam hidupku," katanya.

Hingga suatu hari, ia menghadiri pemakaman temannya. Sang pendeta di akhir ceramahnya berkata, "Istirahatlah dengan tenang, dan abaikan semua dosa."

"Meskipun aku benar-benar tidak puas oleh perilaku agamawan di Yunani dan masih terngiang-ngiang kata-kata pendeta di pemakaman, aku memutuskan untuk mulai membaca tentang agama," katanya.

Ia mulai meneliti agama Kristen dan terutama Dogma Ortodoks, juga Yudaisme, dan Budha sebelum akhirnya Islam. "Aku mulai secara bertahap percaya pada Tuhan, imanku pada Tuhan menjadi kuat seiring waktu, walau aku belum memilih, akan memuja Tuhan dengan agama apa," katanya.

Ketika makin dalam belajar, banyak pertanyaannya yang jawabannya ada dalam ajaran Islam. "Islam berarti perdamaian dan Muslim berarti orang yang menawarkan dirinya kepada Allah saja, tanpa penyesalan atau keuntungan pribadi," ujarnya.

Ia juga menemukan anggapan publik Yunani tentang beberapa simbol Islam, ditafsirkan secara salah. Misalnya saja, karena kirabnya menggunakan bahasa Arab, maka hanya ditujukan untuk orang Arab. Atau simbol bulan sabit yang diartikan sebagai simbol mandi darah dan balas dendam. "Bulan sabit merupakan peringatan bahwa orang Muslim menghitung waktu berdasarkan bulan, bukan matahari," ujarnya.

keinginannya berislam semakin mantap ketika ia meneruskan studi ke Inggris. Sumber-sumber mempelajari Islam banyak dijumpai di negara ini. "Aku bertemu banyak Muslim, membaca lebih beragam literatur, menonton film dokumenter, menghadiri ceramah Islam, pergi ke museum Islam, dan menghadiri kelas Islam," katanya.

Maka bulat hati, ia bersyahadat, namun dengan syarat. "Aku memutuskan untuk memulai hidup sebagai seorang Muslim untuk jangka waktu tertentu, untuk melihat apa apakah itu benar-benar begitu sulit. Seperti yang dinyatakan dalam Quran, pria dan wanita diciptakan sama-sama memiliki kehendak bebas untuk mereka sendiri," katanya.

Apa artinya hidup sebagai seorang Muslim? Apakah harus mengenakan abaya dan niqaab? Haruskah berdoa 10 kali sehari? Bagaimana dengan puasa ketat selama bulan Ramadhan? Terus, tinggal di rumah dan memiliki banyak anak? Menghindari segala macam pengalaman yang menyenangkan kalau-kalau Anda melakukan sesuatu yang terlarang? Pertanyaan itu terus berputar.

Hingga akhirnya ia menemukan: Islam bukanlah sistem yang ketat aturan atau semacam penjara. "Islam menuntun untuk mlakukan perbuatan baik setiap hari, berusaha untuk menghindari tindakan buruk, berdoa sebanyak yang Anda bisa, puasa sebanyak yang Anda bisa, menunjukkan cinta dan kasih sayang, selalu berjuang untuk memperbaiki diri sendiri, maju dan berkembang dalam pengetahuan hari demi hari, mencoba melakukan yang terbaik setiap hari, hanya inilah yang diperlukan untuk menjadi seorang Muslim," katanya.

Ia memperbaharui syahadatnya. Kini, Myrto telah kembali ke Yunani dan menikah dengan seorang Muslim Inggris. "Aku menyadari bahwa saya bisa hidup sebagai seorang Muslim, aku hanya mengubah cara dan frekuensi doa, berhenti makan daging babi atau minum alkohol, dan kini aku memakai jilbab. Itu saja."

Sumber: republika.co.id


Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
Melihat keluarga Danny Herman de Annan, kita seperti melihat keluarga Amerika kebanyakan. Pagi mereka dimulai pukul 06.30. Mereka sarapan pagi bersama, sebelum semua anggota keluarga bubar jalan ke tempat aktivitas masing-masing. Yang membedakan: begitu bangun, seluruh anggota keluarga berwudlu untuk kemudian shalat subuh bersama.

Bagi De Annan, keluarga adalah surga di dunia baginya. Membentuk keluarga seperti sekarang, tak pernah ada dalam bayangannya.

Danny Herman de Annan, kini 33 tahun, lahir di Queens, New York. Ayah dan ibunya berkewarganegaraan Puerto Rico, yang membesarkan anak-anaknya sebagai seorang Katolik.

Besar di AS, de Annan sempat mengalami "salah gaul". Ia bergabung dengan geng remaja dan kerap melakukan kejahatan jalanan. Satu kasus mengantarkannya mendekam di penjara.

Berada di balik dinding penjara, de Annan mempunyai banyak waktu untuk merenung. "Saya di sini. Hidup dalam kandang seperti hewan," katanya menceritakan pergulatan batinnya saat itu. "Saya tidak ingin seperti ini lagi."

Di penjara, ia mulai mengenal Tuhan. Ia belajar banyak agama dari sesama tahanan. Ia juga punya lebih banyak waktu untuk menelaah beberapa bacaan.

Perubahan yang signifikan dalam hidupnya, dimulai saat ia membaca Alquran yang diam-diam dicurinya dari perpustakaan penjara. Lama ia merenungi terjemahan Alquran itu. Dalam benaknya, ia mulai mengakui dan cocok dengan konsep ketuhanan dalam Islam.

Hidayah ditindaklanjutinya setelah masa hukumannya selesai. Ia rajin mendatangi diskusi keislaman. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menerima Islam.

Pada saat itu Danny sudah mulai berhenti minum dan merokok. Seorang teman memperkenalkannya kepada para pemimpin agama di Islam Education Center di North Bergen.

Proses pengislamannya lumayan unik. Para imam di islamic Center itu tak serta merta menuruti keinginan de Annan untuk masuk Islam. Mereka ingin, ia berislam dengan kesungguhan hati, bukan karena terbawa suasana atau emosi.

Ketika itu, semua orang di ruang shalat, mengatur barisan shalat. Danny diinstruksikan untuk duduk dan melihat saja. Namun ia tergerak. "Saya tidak mau menunggu sembilan bulan lagi dengan hanya menonton orang lain shalat sementara saya tidak," katanya. Ia pun minta diislamkan sebelum shalat dimulai. Sejam kemudian, dia ada di dalam barisan shaf, menunaikan shalat.

De Annan menggunakan nama Muslim Abdullah, atau 'hamba Allah' dan mulai memperkenalkan Islam kepada orang tua dan saudara. Mereka kini memeluk Islam.

Beberapa tahun setelah menjadi Muslim, de Annan menemukan tambatan hatinya, seorang mualaf kelahiran Amerika Serikat, Mark Lay. Dengan Lay lah, ia kini bahu-membahu menjaga "surga" mereka; rumah tangga dengan tiga anak.

sumber: republika.co.id


Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
Tiga mualaf Swedia, Iman Monica Granath, (22), Meryem Connie Sahin (27), dan Camilla Lif (25) diwawancara bersama di sebuah radio nasional. Bagi publik Swedia kebanyakan, pilihan mereka untuk berislam dan kemudian mengenakan jilbab adalah hal yang paling kontroversial yang dilakukan di Swedia.

Reporter senior Swedia, Annika Sundbaum-Melin, bertemu tiga gadis itu untuk menjawab rasa ingin tahu publik Swedia, dan wawancara keduanya disiapkan di radio dan dimuat di koran-koran nasional beberapa waktu lalu. Tiga pertanyaan sama, menghasilkan jawaban berbeda. Berikut jawaban Camila Lif, tentang pilihannya berislam:

Kapan Anda masuk Islam?

Saya sudah menjadi seorang Muslim selama lima tahun. Orang tua saya adalah ateis, hal yang diwariskan pada saya sampai saya berumur 18 tahun. Setelah itu, saya mulai tertarik dengan Islam, dan mempelajarinya. Pilihan saya pada Islam bukan karena agama lain lebih buruk, tapi karena Islamlah yang pas dengan hati saya.

Saya tahu beberapa Muslim yang tidak memakai jilbab, mengapa Anda melakukannya (mengenakan jilbab)?

Mengenakan jilbab tidak instan bagi saya; begitu berislam saat itu pula berjilbab. Satu tahun setelah memeluk Islam, saya masih belum berjilbab. Saya lebih fokus pada membenahi iman saya, batin saya. Tapi kemudian ketika saya makin banyak belajar, semakin saya ingin berbuat lebih banyak demi Allah. Maka saya berjilbab.

Bagi saya -- ini tak disebutkan dalam fikih Islam -- berjilbab banyak untungnya, tak sekadar pakaian, tapi juga pelindung rambut dan kulit. Anda tahu, itulah mengapa prevalensi kanker kulit di antara kami rendah. Perintah Tuhan selalu menguntungkan kita.

Apakah Anda mendapatkan pekerjaan ketika Anda memakai kerudung?

Aku menjadi tenaga paramedis, dan sejauh ini tak ada masalah. Saya tak pernah aneh-aneh dalam berpakaian. Syal ini sangat menolong saya.

Sikap Anda terhadap umat lain berubah setelah menjadi Muslim?

Tentu tidak. Faktanya adalah bahwa Islam, Yahudi, dan Kristen berdekatan, berasal dari satu rumpun yang sama. Kami percaya pada para nabi. Nabi mereka, ada disebutkan dalam kitab suci saya.

Saya tak pernah mengunci pintu rapat-rapat bagi mereka. Bila kita bergandeng tangan, maka di luar sana tak akan ada gelandangan, atau orang yang kelaparan. Ajaran kami adalah peduli pada sesama, hal yang juga diajarkan dalam Kristen dan Yudaism.

Muslim selalu dikaitkan dengan terorisme, penyiksaan, dan penindasan. Anda tak takut?

Kekerasan terjadi di semua negara dan Anda tidak boleh lupa bahwa itu bukan Muslim sejati yang berperilaku seperti itu. Kesalahan yang dibuat media adalah bahwa mereka sebut sekelompok orang gila bagi umat Islam meskipun mereka tidak demikian. Satu Muslim digambarkan seolah-olah dia akan membunuh seluruh warga Swedia, membunuh kaum Kristen. Ini anggapan yang sungguh keji.

Bagaimana dengan perkawinan dalam Islam, yang digambarkan istri selalu tertindas?

Islam sangat adil bagi perempuan. Bila kita merasa tertindas atau terpinggirkan, jika kita diperlakukan tidak adil, jika tidak dapat menghasilkan keturunan padahal salah satu dari pasangan menginginkan, maka ada klausul cerai dalam Islam. Hal ini jelas dalam Alquran bahwa pemaksaan tidak akan muncul dengan cara apapun.

sumber: republika.co.id


Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
Perekonomian Irlandia pada tahun 1986 adalah dalam keadaan miskin. Hampir satu dari lima dari angkatan kerja menganggur, utang nasional tiga kali lipat pada periode yang sama dan utang / rasio GNP meningkat dari 88 persen menjadi 148 persen dan output nasional pada tahun 1986 tidak lebih tinggi dari enam tahun sebelumnya. Yang terburuk, 24 ribu pekerja menjadi pengangguran.

Kieran Forde, lahir dalam keluarga Katolik yang taat di sebuah desa di Irlandia, merasakan kesuraman itu. Lulus kuliah fakultas pertanian, ia menjadi pengangguran.

Ia berpikir, beremigrasi tampaknya menjadi jalan keluar dari situasi mendung yang mengungkungnya. Dengan sekelompok teman-temannya, ia mulai berburu pekerjaan ke luar negeri. Surat lamaran disebarnya ke seluruh negeri. Teman-temannya memenuhi panggilan-panggilan kerja: di Selandia Baru, Eropa, hingga Amerika Serikat. Namun bagi Forde, tak ada yang terasa mantap di hatinya.

Ia baru merasa tergerak saat menerima panggilan dari surat lamaran yang dikirimkannya ke sebuah lembaga di Arab Saudi. "Negeri itu pada kurun 1980-an sedang giat-giatnya membangun sektor pertanian," ujarnya.

Pemerintah Saudi telah memulai program untuk memodernisasi dan mengkomersialkan pertanian. Dukungan besar-besaran pemerintah dilakukan pada infrastruktur, termasuk pasokan listrik, irigasi, drainase, sistem jalan sekunder, dan sarana transportasi lainnya untuk distribusi dan pemasaran produk.

Maka ia angkat kopor meninggalkan negerinya, dan bergabung dengan Masstock Saudia di Riyadh pada divisi penjualan.

Kariernya menanjak di perusahaan itu, hingga terakhir menjadi direktur strategi. Forde berfokus pada pngembangan SDM pertanian Saudi. Ia menggarap anak-anak muda untuk menekuni pertanian. Orang muda, katanya, jauh lebih berpendidikan sekarang daripada ketika ia pertama kali datang.

"Kami mencoba merekrut dari Saudi pada tahun 1980-an tapi tidak bisa menemukan orang melampaui tingkat SMA. Sekarang mereka jauh lebih canggih."

Di satu sisi, ia tertantang dengan pekerjaan yang dilakukan. Di sisi lain, ia merasakan ketenangan batin luar biasa berada di antara kaum Muslim di negeri Muslim.

"Satu hal yang saya terkesan dengan ketika saya datang ke sini adalah nilai-nilai keluarga, mereka benar-benar memukul saya," katanya.

Ia menemukan kesamaan besar antara hubungan keluarga yang akrab di Arab dengan masyarakat perdesaan di Irlandia, tempatnya berasal. Namun, sentuhan Islam membuatnya terlihat lebih menariknya.

Forde, dengan kesadarannya sendiri, akhirnya memilih masuk Islam.

"Saya sangat terkesan dengan mengingat Allah dan nilai-nilai agama, semua hal. Beda dengan agama lain, Islam merasuk di semua sendi kehidupan," ujarnya.

Di sela-sela kerja, ia giat menimba ilmu Islam. "Saya sempat terpikir untuk menjadi seorang imam, sekembalinya saya ke Tanah Air saya," katanya.

Namun, suratan takdir berkata lain. Ia terpikat seorang gadis lokal, dan kemudian menikah.

"Sekarang 70 persen hati saya ada di sini," ujarnya. Sesekali ia mengunjungi tanah kelahirannya bersama anak-anak dan istrinya. "Keluarga saya sangat welcome terhadap anak-anak dan istri saya."

sumber : republika.co.id


Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
Banyak warga keturunan Cina yang tinggal di Bangka Belitung, salah satunya Parieska, pria kelahiran tahun 1987 yang tumbuh besar di Bangka. Interaksi antara warga Tionghoa Bangka dengan Masyarakat Melayu yang kerap ia jumpai di masa kecilnya, telah membuat banyak perubahan dalam hidupnya.

“Dua kebudayaan (Melayu dan Tionghoa) memiliki hubungan yang baik, saat orang Melayu merayakan lebaran warga Tionghoa juga ikut serta, begitu pula saat warga Tionghoa merayakan Imlek orang melayu turut bersilaturahmi. “ cerita Parieska

Persentuhan dengan Parieska, kini 24 tahun, dengan Islam telah dimulai sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ia yang berkeyakinan Kong Hu Chu saat itu mengikuti pelajaran Agama Islam karena SD negeri tempat ia belajar tidak menyediakan pilihan agama dalam kurikulum yang ada.
Parieska kecil merasa tak keberatan. Ia malah merasa senang karena tak ada perbedaan dalam pelajaran dengan mayoritas teman-teman sekolah yang beragama Islam. “Ayah saya orang Tionghoa sedangkan ibu beragama katolik, tidak ada kedua agama tersebut dalam kurikulum sekolah saya.” Ujar Parieska.
Ketika ia mempelajari Islam disekolahnya, muncullah ketertarikan terhadap Islam. Bahkan suatu hari ketika mendengar kumandangan adzan magrib ia sangat terpanggil dan ingin ikut melaksanakan ibadah shalat.

Ia sempat pula mengutarakan keinginannya untuk masuk Islam. Tetapi karena Parieska masih SD maka ucapannya tidaklah pernah dianggap serius oleh orang-orang di sekitarnya. “Mungkin saya masih anak kecil” kenangnya

Lulus SD, Parieska melanjutkan ke SMP Swasta. Di sana ia mempelajari agama yang dianut ibunya, Katholik. Rupanya, pelajaran Islam yang ia terima saat SD begitu membekas, hingga Parieska berdebat mengenai konsep trinitas dalam agama tersebut dengan salah satu guru agamanya.

Selama ia mempelajari Katolik, ia sempat ditawari untuk masuk Katolik. Guru juga mengatakan bila Parieska masuk Katolik maka ia tetap diperbolehkan melaksanakan ibadah agama Tionghoa.
“Mereka menganggap Konghucu sama dengan katolik, dengan menjanjikan kebebasan bagi orang Tionghoa dalam menjalankan ibadahnya serta diikuti dengan ibadah digereja. Jadi kedua agama itu tidak ada yang membedakan," tutur Parieska. Namun otak Pareieska sulit menerima logika itu sebab ia meyakini tuhan mereka jelas berbeda. Kesadaran itu telah dimiliki oleh Parieska bahkan ketika masih SMP.

Kegemarannya membaca buku juga ikut membantu pencarian Parieska. Ia tak pernah berhenti mencari ilmu agama Islam. Ia mempelajari Agama Islam dari Literatur, buku pelajaran hingga ke majalah-majalah Islam. “Saya banyak membaca mengenai kisah hidup orang-orang yang memilih Islam, juga kisah tentang tokoh-tokoh besar yang masuk Islam. Yang semakin memotivasi saya” kisah Parieska.

Banyaknya ilmu yang didapat membuatnya makin yakin dengan ajaran Islam. Ketika ia tak mendapat jawaban masuk akal mengenai ajaran Trinitas, hasrat untuk masuk Islam semakin kuat. Padahal saat itu ia masih terbilang sangat muda

“Sewaktu duduk di bangku SMP saya pernah nekat masuk mushola, karena rasa penasaran saya terhadap Islam” ujar Parieska.

Keingintahuannya akan kebenaran Islam seolah terjawab oleh mimpinya "Saat itu saya mimpi sujud kearah kiblat dengan berlinang air mata, ketika itu saya merasa sangat tenang dan hati saya sejuk. “ kenang anak kedua dari tiga bersaudara ini

Tangis dalam mimpinya ternyata benar-benar terjadi. Begitu Parieska terbangun ia juga sedang menangis. Setelah kejadian yang tak biasa itu Parieska pun curhat kepada salah seorang teman disekolahnya. Temannya sangat mendukung keinginan Parieska untuk memeluk Islam, bahkan ia menyuruh Parieska untuk segera melaksanakan niatannya itu.

“Saya ingat teman saya bilang ‘Parieska kalau kamu ingin masuk Islam segeralah laksanakan, jangan tungggu lama-lama karena umur tak ada yang tau, bisa saja kamu mati besok dan kamu akan rugi dan sangat menyesal’ perkataan itu yang membulatkan tekad saya” kenangnya

Saat itu juga Parieska menyampaikan keinginannya memeluk Islam kepada salah satu guru agama disekolahnya. Tanpa menunggu lama akhirnya Parieska mengucap dua kalimat syahadat di hadapan teman-temannya. Prosesi sakral itu terlaksana tepat tiga hari sebelum lebaran.

“Ketika itu teman-teman serta guru saya menangis terharu, saya merasa senang telah menjadi bagian dari orang-orang Islam” Ujar Parieska Setelah resmi menjadi seorang Muslim, Parieska mengganti namanya menjadi Abdullah Ramadhan.

Keputusan besar dalam hidupnya itu segera diceritakan kepada orang tuanya, Sang Ayah tak mempermasalahkannya karena ia dianggap sudah dewasa. Tetapi tidak demikian dengan sang ibu, ia sangat menentang keputusan Abdullah.

“Setiap akan belajar bacaan shalat saya selalu mengurung diri dikamar agar tidak terganggu, tetapi ibu saya juga tidak pernah menyerah untuk menghalangi saya mempelajari Islam, acapkali ia menendang pintu kamar saya.” Kenang Abdullah

Dengan tekad kuatnya untuk terus mempelajari Islam, Abdullah bergeming meski mendapat perlakuan buruk dari ibunya. Namun tak ada sedikitpun rasa benci terhadap ibu yang menentangnya

"Saya tidak mau menjadi anak yang durhaka. Keinginan saya adalah mangajak ibu memeluk Islam.” Lanjutnya

Meski sering mendapat tekanan dari orang tua, Abdullah tetap mencerminkan sikap anak yang berbakti kepada orang tua, tak pernah ia membentak atau berlaku tidak sopan. Hal itulah yang membuat orang tuanya bisa menerima Abdullah sebagai muslim.

Ilmu agama yang telah didapat Abdullah membuatnya mampu mengajak kakaknya untuk memeluk Islam di tahun 2005. “Tidak hanya kakak saja, adik saya yang baru pulang setelah menjalankan misi gereja saya ajak berdialog mengenai Islam dan akhirnya ia memilih Islam. Alhamdulilah kami bertiga sudah Islam” ujarnya.

Tak ada kata berhenti bagi Abdullah dalam mempelajari Islam, Saat ini ia telah hapal 2 juz al-Quran. Hanya satu keinginan besar Abdullah yang ingin ia tunaikan yakni mengajak orang tuanya masuk Islam. Ia mengaku akan berupaya mewujudkan setelah merasa cukup ilmu serta mampu membina kedua orang tuanya.

sumber republika.co.id


Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
Mualin Muntero terlahir dari keluarga Katolik yang taat. Pria kelahiran Timor Leste ini sangat rajin beribadah, sejak usia masih belia.

Saat berusia 8 tahun, secara tidak sengaja dia menemukan sebuah buku bertuliskan bahasa yang tak dipahaminya -- bahasa Arab -- saat hendak pulang dari gereja. Itulah momen perjumpaan pertama Montero dengan Islam.

“Saya tak tahu buku apa yang saya temukan ini, buku ini bertulisan Arab di sertai sebuah tulisan latin. Akan tetapi ada dorongan untuk membawa pulang buku tersebut," ungkapnya kepada republika.co.id, beberapa waktu lalu.

Meski tak tahu buku apa yang ia temukan, rasa penasaran sangat bergejolak di dalam hatinya. Dia pun menanyakan buku tersebut kepada kakaknya. Kebetulan waktu itu kakaknya baru pulang dari Makassar (saat itu ia tinggal di pinggiran Dili, Tomor Leste sekarang). “Saya hanya mendapatkan jawaban bahwa buku tersebut merupakan bukunya orang Islam," ujarnya.

Malam sehabis ia menemukan Alquran tersebut, Montero mendapatkan sebuah mimpi yang aneh. Ia bermimpi mengunjungi sebuah tempat yang sangat indah. Tergambar dalam mimpi itu, sebuah tempat yang dihuni manusia dengan pakaian yang serba putih.

Montero pun menafsirkan tempat tersebut merupakan surga. “Saya tak pernah menemukan tempat yang seindah itu di manapun," ujarnya.

Montero bingung dengan mimpinya. Ada tanda tanya yang tersemat di hatinya.

sumber: republika


Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
Saya menjadi Muslim sebab ada banyak alasan baik, namun yang terpenting, saya ingin dekat dengan Tuhan dan menerima pengampunan dan penyelamatan abadi," tulis Ismail Abu Adam di akun YouTube miliknya. Padahal jauh sebelum menyatakan itu, Ismail yang awalnya penganut Kristen taat, ingin melakukan misi penginjilan ke komunitas Muslim yang selama ini ia pikir harus diselamatkan.

"Saya lahir besar sebagai Kristen. Tetapi dasar saya adalah Katholik Roma," kata Ismail. "Saya selalu meyakini Yesus adalah Tuhan dan saya berikan hidup saya kepadanya," tuturnya.

Ismail meyakini Yesus adalah penyelamat dan ia juga mempercayai peristiwa kematian, penyaliban hingga kebangkitan Yesus. "Juga konsep dosa asal, seratus persen semua itu saya yakini sebagai kata-kata tuhan," ungkap Ismail.

Sebagai penganut taat, ia pergi ke gereja setiap minggu dan aktif dalam kegiatan peribadatan. Bahkan ia kerap mengkotbahi teman-temanya dan mengajak mereka yang beberbeda keyakinan untuk mempercayai agama yang ia anut.

Pada awal usia 20-an, Ismail mulai tertarik melebarkan kotbah ke umat Muslim. "Saya besar, tinggal di Amerika Utara. Di sana saya sangat jarang bertemu Muslim, yang ada hanyalah kaukasia dan kristen, jadi saya ingin menyakskan Kristen bisa disebarkan ke komunitas Muslim," ujarnya.

Sebelum benar-benar turun ke lapangan dan bersentuhan langsung dengan Muslim, Ismail memutuskan mengawali dari dunia maya. Ia mencoba mencari celah bagaimana Kristen bisa disebarkan lewat media tersebut.

Ketika menelusuri internet itulah ia menemukan dan menyaksikan video yang ia anggap menarik; debat antara seorang Muslim dan penginjil. Muslim itu dari Afrika Selatan bernama Ahmad Deedat. Lewat debat, Ismael menyadari bila ia sangat paham injil. "Ia selalu menang dan mampu mematahkan serta membuat sanggahan jitu terhadap penginjil dari setiap aspek," tutur Ismael.

"Ia mematahkan argumen bahwa dosa asal itu tidak ada, bahwa Kristen bukan kata-kata Tuhan, serta menunjukkan bahwa Kristen adalah doktrin yang salah karena dibuat oleh intepretasi selip, sudah mengalami fabrikasi, modifikasi ditambah dan juga dikurangi oleh penulisnya," kata Ismail lagi.

Dedat, menurut Ismail, juga menyinggung doktrin trinitas, kebangkitan, penyaliban. "Terasa betul argumen lawan (penginjil-red) sangat lemah dan mudah dipatahkan. Harus saya akui, jujur saya tidak suka Ahmad Deedat saat itu," ungkap Ismail.

Ia bahkan frustasi dengan pembicara dari kubu Kristen. "Ia memegang gelar PhD di bidang teologi Kristen, tapi ia tak bisa mematahkan balik argumen Ahmad Deedat yang hanya bicara sendiri dan hanya didukung oleh Al Qur'an."

Saat itu Ismael berpikir Deedat tentu menggunakan Injil untuk membantah doktrin Kristen. Ia pun tergugah untuk mempelajari Kristen lebih lanjut dengan semangat kelak ia akan membantah argumen-argumen Ahmad Deedat.

Ismael mengaku tipe orang dengan pemikiran skeptis. "Saya sulit percaya dan meyakini sesuatu jadi saya perlu memelajari dan menyelediki sendiri untuk memahami dan meyakini sesuatu," ujarnya.

Saat memutuskan untuk lebih mendalami Kristen ia memilih dari prespektif Islam. "Sebelumnya saya tak pernah melakukan itu, memelajari Kristen dari prespektif selain Kristen dan Deedat benar-benar mengonfrontasi pemahaman saya," ungkap Ismail.

Ismail pun mengkaji Injil dan doktrin Kristen dari Islam. Ia memelajari keabadian, konsep trinitas, penyaliban Yesus, konsep juru selamat hingga kebangkitan, dosa asal. "Apakah benar injil adalah kata-kata tuhan," tuturnya.

Ketika mendalami Al Qur'an Ismail menyadari bahwa argumen Deedat ternyata benar. "Saya tiba-tiba merasa berada di jalan yang salah. Kristen bukanlah kata-kata Tuhan. Ini benar-benar sebuah tamparan keras bagi saya" kata Ismail.

"Saya telah menganut Kristen bertahun-tahun, saya lahir sebagai Kristen dan menjadi seorang Katholik selama 20 tahun, tiba-tiba semua yang saya yakini berbalik dari atas ke bawah. Tentu ini merupakan guncangan besar," tuturnya.

Saat itu belum timbul keinginan Ismail untuk menjadi Muslim. "Yang saya inginkan saat itu mengetahui secara mendasar kebenaran sesungguhnya," ungkapnya.

Islam pun mulai ia pejalari. Dari sana ia memahami Muslim hanya mempercayai satu tuhan dalam konsep bernama tauhid. Monoteisme, itulah kesimpulan yang ia peroleh dari agama Islam. "Mereka memanggil tuhan dengan Allah, mereka percaya Yesus adalah nabi, seorang messiah yang mengabarkan kebenaran saat dibangkitkan lagi, itu juga keyakinan besar yang saya anut," kata Ismail.

Lebih dalam mengkaji, Ismael menemukan konsep pengampunan dan penyelamatan Tuhan. Ia memahami pengampunan dalam Islam diperoleh dengan cara beriman kepada Tuhan, melakukan ajaran-Nya dan berbuat kebaikan sebagai wujud iman.

Ismail juga mengetahui bahwa Muslim mempercayai ada nabi setelah Isa yakni Muhammad. "Mereka meyakini itu sebagai kata-kata Tuhan dan semua ada dalam kitab yakni Al Qur'an," ujarnya. "Ini sesuatu yang baru bagi saya. Saya pernah tahu Islam, tapi tidak mendetail."

Saat itu Ismail mengaku mulai muncul rasa suka terhadap Islam. "Muslim mempercayai keberadaan Yesus. Bagi saya itu adalah sebuah tautan antara Islam dan Kristen dan itu membuat saya merasa nyaman. Saya seperti menemukan batu pijakan," tutur Ismael.

Begitu mengetahui bagaimana Muslim meyakini Tuhannnya, bagaimana Nabi diutus membawa pesan, Ismail merasa dilahirkan untuk mempercayai itu. Ia pun memutuskan pergi ke masjid. "Saat itu saya pindah ke kota kecil dan di kota itu ada sebuah masjid. Saya ketuk pintunya dan berkata saya ingin berbicara dengan seseorang tentang Islam," tutur Ismail.

Setelah itu Ismail rutin meyambangi masjid tersebut saban minggu untuk berdiskusi dengan seorang imam di sana. Sang imam memberinya buku-buku bacaan tentang Islam dan juga biografi Rasul Muhammad. saw. "Ia meladeni dan menjawab semua pertanyaan-pertanyaan saya," kata Ismail.

Hingga suatu hari, sang Imam berkata kepadanya "Saya tidak ingin kamu menjadi Muslim kecuali kamu benar-benar yakin dengan agama ini." Mendengar itu Ismael lagi-lagi mengaku terkejut. "Selama saya menjadi Kristen saya selalu bertemu kotbah dan juga berkotbah untuk mengajak seseorang menjadi Kristen. Setiap Kristen selalu mencoba mempengaruhi seseorang menjadi Kristen," tuturnya. "Hampir tidak mungkin Kristen berkata, 'Saya tidak ingin kamu menjadi Kristen kecual kamu yakin dan kembalilah kepada saya jika kamu sudah yakin'."

Ismail justru tertantang dengan ucapan sang imam. Apakah ini memang jalan sesungguhnya? "Ini justru menggelitik saya untuk mengetahui apakah Islam itu memang yang benar, yang harus diyakini? Sungguh tak ada yang memaksa saya untuk menjadi Muslim," tuturnya. "Saya melihat dalam Islam terdapat kebenaran dan itu tampak jelas sebagai cara hidup yang diinginkan Tuhan bagi saya," ujarnya.

Ketika Ismail mengingat Injil kembali, justru ia menemukan fakta Yesus yang diyakini sebagai tuhan tak pernah mengklaim dirinya adalah tuhan dan menyeru pengikutnya untuk menyembahnya. Membandingkan lebih jauh lagi, dalam Al Qur'an, Ismail menemukan janji pengampunan Allah akan diberikan bagi orang yang beriman, namun di Injil, kata 'janji' itu tak ada.

"Pengampunan dan penyelamatan diberikan Allah karena Ia mencintaimu, karena engkau bertobat, beriman kepadanya dan melakukan apa yang ia kehendaki. Itu sungguh jelas dan sederhana," kata Ismail. Sementara di Kristen, menurut Ismail, penyelamatan cukup sulit bagi pemeluknya.

"Pertama anda harus meyakini dahulu peristiwa pembunuhan kejam dan penyaliban seseorang yang tak berdosa, di mana darah ditumpahkan demi menyelamatkan dosa anda. Anda diciptakan dengan dosa asal. Tuhan menempatkan diri anda di dunia bersama dosa dalam hati atau jiwa anda. Semua itu justru tidak mencerminkan keadilan Tuhan," paparnya.

Ismail menilai pengampunan dan penyelamatan di Islam lebih masuk akal. "Pengampunan adalah milik Tuhan, pemberian Tuhan karena cinta, karena kita meminta kepada-Nya, karena kita meyakini-Nya," ujarnya. "Memang di Injil juga ada kata-kata yang mengandung kebenaran. Tetapi Islam lebih superior dan secara logika benar. Bagi saya itu sangat mengagumkan," imbuhnya.

Padahal selama ini Ismail selalu membayangkan Islam sebagai agama kekerasan, seperti menganjurkan pembunuhan. "Tapi ketika saya membaca Al Qur'an saya menemukan banyak ketenangan, kalimat mengandung kedamaian, kesunyian dan pencerahan. Karena itulah saya memutuskan untuk menjadi seorang Muslim.

Kini Ismael meyakini Allah adalah tuhannya dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada-Nya. "Ia adalah raja sekaligus penyelamat saya di dunia dan akhirat. Dengan ini saya pun meyakini Yesus membenarkan ajaran Yesus sebagai seorang Muslim," ujarnya.

Saat ini Ismael mengambil disiplin Kajian Islam di perguruan tinggi. Dalam sepuluh tahun terakhir ia telah bepergian ke enam negara bermayoritas Muslim dan membaca puluhan buku-buku tentang Islam dan Perbandingan Agama. Ia bahkan sudah cukup fasih untuk berbincang dalam Bahasa Arab. Dalam akun YouTube-nya Ismail menulis, "Saya mencintai Allah karena Ia yang pertama kali mencintai saya."

sumber: republika.co.id


Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
Meski dibesarkan dalam keluarga Budha, sejak kecil, orang tua Ratna Novita, 32 tahun, tidak pernah memaksa atau melarangnya untuk menganut agama tertentu. "Intinya kami sendiri yang mencari agama itu," ungkap Ratna

Ayah dan ibunya membebaskan dalam urusan satu itu. Tak heran, bila menyimak kisahnya, Ratna yang tertarik belajar Islam sempat pula beribadah di Gereja.

Perkenalan serius dengan Islam dimulai ketika duduk di bangku sekolah dasar. Sebenarnya Ratna yang melihat teman-temannya sebagian besar beragama Islam, awalnya ikut-ikutan memilih pelajaran agama Islam. Maklum, saat itu sekolah umum hanya memberikan dua pilihan pelajaran agama, Islam dan Kristen.

Sejak itu, Ratna mulai mempelajari segala hal tentang Islam, mulai kisah para nabi, bacaan Shalat, surat-surat pendek serta sejarah Islam. Lambat laun ketertarikannya dengan Islam sangat besar.

“Lingkungan sekitar yang mayoritas Muslim membuat saya tertarik dengan Islam, maka dari sana lah saya giat mempelajari segala hal mengenai Islam” ujar Ratna

Ratna tak hanya belajar di sekolah. Selepas maghrib bersama teman-temannya di kampung halaman, ia mengikuti pelajaran mengaji Al Qur'an.

Rutinitas itu ia lakoni selama enam tahun. Ratna yang keturunan Tionghoa dan tercatat beragama Budha dalam data kependudukan sipil, mengaku merasa menjadi Muslim meski belum pernah mengikrarkan syahadat.

Tapi ketika SMP, ritual Ratna mulai berganti. Ketika ia tinggal dengan kakaknya yang menganut Katholik, di sekolah ia beralih mempelajari agama tersebut. Tiap minggu ia juga ikut pergi ke gereja bersama sang kakak.

“Saat SMP saya ikut kakak, jadi saya mengikuti agama yang ia anut. Tetapi saat saya menginjakkan kaki ke gereja saya tidak merasakan kenyamanan di sana," ungkapnya.

"Saat itu saya pikir karena baru pertama kali dan masih canggung. Tetapi lama kelamaan rasa itu semakin tak bisa dipungkiri. Saya benar-benar tidak tenang di gereja” tutur anak ke-6 dari 8 bersaudara itu.

Ketidaknyamanan itu membuat Ratna berpikir ulang. Ia menyadari Katholik bukan lah agama yang ia cari selama ini. Islam-lah yang sesungguhnya ia butuhkan. Kesadaran itu mendorong Ratna untuk kembali pada Islam.

Ia pun membulatkan tekad dengan mengucap dua kalimat syahadat di salah satu masjid di kampungnya, Jawa Tengah. “Saat SD mungkin dianggap karena ikut-ikutan teman, tetapi saya merasakan hal yang lebih dari sekedar ikut-ikutan," ujarnya.

Setelah menyandang status sebagai seorang Muslim, Ratna tak hanya menjadikan Islam sebagai agama sesuai catatan sipil di KTP. Ia juga terus belajar menegenai Islam dan mencoba mengaplikasikan semua ajaran agama yang ia peroleh sebelumnya dalam kehidupan sehari-hari.

Saat menikah, Ratna memutuskan untuk menutup auratnya sesuai dengan perintah agama. Selama pernikahannya Ratna dikaruniai satu orang anak.

Meskipun saat ini ia telah berpisah dengan sang suami, namun, itu tak membuat ke-Islamannya menurun. “Awalnya saya merasa sendiri, karena saya pikir sangat jarang keturunan Cina yang menjadi seorang muslim," tuturnya.

Akhirnya ia mencoba mencari di internet mengenai keberadaan komunitas Muslim Cina dan mendapatkan satu komunitas Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) yang berkantor di Jakarta Timur. "Kini saya mengikuti pengajian di Masjid Lautze, Pasar Baru,” tutur Ratna

“Islam adalah agama yang Damai, banyak hal-hal yang diluar akal manusia” ujar Ratna. ”Saya mengatakan demikian karena saya telah merasakannya," katanya.

Beberapa perilaku keseharian itu menurut Ratna, seperti menyisihkan uang untuk bersedekah setiap hari. Ia merasakan manfaat besar dari bersedekah, yakni pertolongan Allah yang tidak diduga-duga ketika ia tengah mengalami kesulitan.

"Intinya adalah kita harus yakin akan kebesaran Allah, karena setiap prilaku kita Allah akan membalasnya, jika kita menjadi orang baik maka Allah akan senantiasa member kebaikan pada kita” ujarnya.

Ratna kini memiliki keinginan besar untuk beribadah Haji. Ia juga berharap dapat mendirikan sebuah yayasan sosial untuk membantu orang-orang yang tidak mampu terutama dalam bidang pendidikan. “Dikampung saya masih banyak orang-orang kurang mampu, jika saya bisa membantu mereka dalam hal pendidikan, alangkah bahagianya mereka.”

Sumber: republika.co.id


Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
Satu lagi warga Inggris menganut Islam. Dia adalah Stuart Mee, seorang pegawai negeri sipil. "Saya merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidup yang tidak bisa tergantikan dengan harta benda apapun," katanya.

Pria berusia 46 tahun asal West Reading ini mulai melakukan pencarian agama tiga tahun lalu. Beragam agama yang ada di sekitarnya dipelajari. Namun, hatinya kemudian tertambat pada Islam. "Jauh di lubuk hati saya, saya selalu percaya pada makhluk yang lebih besar, dan Islam mengenalkan konsep Allah," ujarnya.

Ia rajin mendatangi perpustakaan umum untuk membaca buku-buku keislaman, dan mengenal Islam dari beragam sumber. Sesekali, ia datang ke Masjid di London Tengah untuk sekadar mendengarkan ceramah agama. "Sampai di titik itu, saya makin yakin Islamlah yang saya cari," kata Mee.

Namun, untuk satu dan lain alasan, ia menyembunyikan keinginannya untuk berislam. Sampai kemudian, ia tak bisa menahannya lagi. "Saya menemukan 'sesuatu yang hilang dari hidup saya' -- saya tahu ini kalimat yang klise dan usang, tapi itu benar -- dan saya memutuskan untuk segera bersyahadat," katanya.

Salah satu yang menjadi pertimbangan sebelum berislam adalah: ia perlu mempersiapkan diri keluar dari "zone nyaman" yang selama ini memeluknya, dan masuk dalam "wilayah yang belum teruji". "Ya, saya memiliki kegamangan: Muslim seperti apa? Apakah mereka seperti yang digambarkan dalam berita? Bagaimana dengan wanita dalam Islam? Bagaimana orang di sekitar saya akan membincangkan saya setelah berpindah agama?"

Namun, ia mengaku, "Ada hal yang saya temukan tidak biasa tetapi ini sebanding dengan aspek indah kehidupan Islam."

Ia pun kemudian mengirimkan email pada seorang imam, menyatakan keinginannya masuk Islam. Tak disangka, emailnya berbalas di hari itu juga. bahkan, mereka sempat melakukan chatting 15 menit terlebih dulu untuk menanyakan kemantapan hatinya.

Ia menyebut, berislam membuat sebuah "perbaikan jangka pendek" dalam hidupnya. "Saya berhenti menjadi seorang pecandu, tidak konsumtif, dan hidup lebih tertata," ujarnya.

sumber : getreading.co.uk /republika.co.id/pumitabusan.com


Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
Baru-baru ini Turki tengah mengalami sebuah sejarah besar dan fenomenal. Seorang pendeta Yahudi Turki terkemuka, Aaron Kohen, bersama keluarganya memutuskan diri mereka untuk memeluk agama Islam.

Harian Turki berbahasa Arab, Akhbaralaalam (5/11) mengabarkan, Kohin (45) dan keluarganya mengikrarkan keislaman mereka di hadapan mufti Istanbul, Syaikh Bey Oglu, sejak sebulan silam. Namun, mereka baru mengumumkannya ke khalayak luas pada awal bulan ini.

“Saya sangat menghormati ketiga agama samawi. Agama Islam adalah agama yang memeluk semuanya. Asas inti ketiga agama hadir dalam Al-Quran,” ujar Kohen, sebagaimana dikutip Harian Hürriyet.

Kohen juga mengatakan, bahwa ajaran dan syari'at agama Islam benar-benar memuat, melengkapi, dan menyempurnakan syari'at agama samawi sebelumnya, yaitu Yahudi dan Kristen. "Dalam kitab suci Al-Quran, sesungguhnya terkumpul ajaran-ajaran mulia agama-agama sebelumnya," tambah Kohin.

Terkait alasan mengapa Aaron Kohen memilih Islam, pendeta muda yang mengaku menghaiskan hampir 20 tahun di kehidupan sinagog Istanbul itu mengatakan, dirinya telah mengkaji secara mendalam antara akidah dan syari'ah Yahudi, Kristen, dan Islam.

"Dan saya memutuskan untuk memeluk Islam karena saya dan keluarga saya ingin mendapatkan kebahagiaan hidup sejati," tegasnya.

Kohen memeluk Islam bersama istrinya, Filori dan anaknya. Sikapnya berganti agama sempat mengundang kecaman. Bahkan untuk menebus keislamannya, Kohen harus menghadapi beberapa tantangan dari komunitas Yahudi nya terdulu.

"Saya banyak menerima kritik dan kecaman dari saudra-saudara Yahudi saya," ujar Kohen. “Saya tidak peduli akan reaksinya. “Kedamaian dalam hati saya jauh lebih penting bagi saya,” tambahnya.

Turki tercatat sebagai negara Muslim yang memiliki sejarah gemilang terkait hidup berdampingan dengan umat Yahudi. Ketika orang-orang Yahudi mengalami pengusiran di Spanyol (abad ke-16 M), dan negara-negara Eropa menolak untuk menerima mereka, justru kekaiasran Islam Turki-Utsmani-lah yang dengan sukarela membukakan pintu untuk menolong mereka.

Hingga saat ini, populasi umat Yahudi di Turki terbilang signifikan. Di Istanbul saja, terdapat sekitar 200.000 pemeluk agama Yahudi. Yahudi Turki, sebagaimana yahudi-Yahudi yang hidup di negara-negara Muslim lainnya, disebut juga sebagai "Yahudi Timur". [akhbar/hurriyet/qantara/ atjeng/cha/www.hidayatullah.com]


Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
AFP
Turin - Gelandang Juventus Mohamed "Momo" Sissoko mengaku kesulitan menunaikan ibadah puasa seraya bermain sepakbola. Tapi karena berpuasa di bulan Ramadhan adalah kewajiban, dia ikhlas sekuat tenaga menjalankannya tanpa merasa tersiksa.

Di bulan Ramadhan, umat Muslim seluruh dunia menjalankan ibadah puasa menahan hawa nafsu. Itu termasuk tidak makam minum dari terbit sampai terbenamnya matahari.

Sebagai penganut agama Islam, Sissoko tak mau absen berpuasa di bulan penuh berkah itu. Masalahnya, dia mengaku sedikit sulit menyeimbangkan antara kewajiban sebagai umat muslim dengan tugasnya sebagai pemain sepakbola, karena puasa mempengaruhi kinerjanya di lapangan.

"Itu sangat disayangkan karena saya tahu tidak memberikan yang terbaik saat melawan Cagliari (akhir pekan lalu) karena saya sangat lelah," ujar Sissoko kepada La Gazzetta dello Sport yang dikutip Channel 4, Rabu (24/9/2008).

Sampai dengan Januari 2008 lalu, Sissoko masih membela klub Inggris, Liverpool. Alhasil inilah puasa pertama pemain asal Mali berusia 23 tahun itu bersama "Bianconeri".

"Semuanya berbeda. Tahun lalu saya baru pulih dari meningitis dan cedera pergelangan kaki jadi saya tak bisa menikmati Ramadhan. Tapi Ramadhan adalah kewajiban dan pastinya bukan semacam siksaan. Italia adalah lingkungan yang multi-kultur dan senang rasanya semua orang merasa menerima," tandas dia.

Kris Fathoni W - detiksport


Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
Siapa yang tidak mengenal Napoleon Bonaparte, seorang Jendral dan Kaisar Prancis yang tenar kelahiran Ajaccio, Corsica 1769. Namanya terdapat dalam urutan ke-34 dari Seratus Tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah yang ditulis oleh Michael H. Hart.

Sebagai seorang yang berkuasa dan berdaulat penuh terhadap negara Prancis sejak Agustus 1793, seharusnya ia merasa puas dengan segala apa yang telah diperolehnya itu.
Tapi rupanya kemegahan dunia belum bisa memuaskan batinnya, agama yang dianutnya waktu itu ternyata tidak bisa membuat Napoleon Bonaparte merasa tenang dan damai.
Akhirnya pada tanggal 02 Juli 1798, 23 tahun sebelum kematiannya ditahun 1821, Napoleon Bonaparte menyatakan ke-Islamannya dihadapan dunia Internasional.

Apa yang membuat Napoleon ini lebih memilih Islam daripada agama lamanya, Kristen ?Berikut penuturannya sendiri yang pernah dimuat dimajalah Genuine Islam, edisi Oktober 1936 terbitan Singapura.

"I read the Bible; Moses was an able man, the Jews are villains, cowardly and cruel. Is there anything more horrible than the story of Lot and his daughters ?""The science which proves to us that the earth is not the centre of the celestial movements has struck a great blow at religion. Joshua stops the sun ! One shall see the stars falling into the sea... I say that of all the suns and planets,..."

"Saya membaca Bible; Musa adalah orang yang cakap, sedang orang Yahudi adalah bangsat, pengecut dan jahat. Adakah sesuatu yang lebih dahsyat daripada kisah Lut beserta kedua puterinya ?" (Lihat Kejadian 19:30-38)"Sains telah menunjukkan bukti kepada kita, bahwa bumi bukanlah pusat tata surya, dan ini merupakan pukulan hebat terhadap agama Kristen. Yosua menghentikan matahari (Yosua 10: 12-13). Orang akan melihat bintang-bintang berjatuhan kedalam laut.... saya katakan, semua matahari dan planet-planet ...."Selanjutnya Napoleon Bonaparte berkata :

"Religions are always based on miracles, on such things than nobody listens to like Trinity. Yesus called himself the son of God and he was a descendant of David. I prefer the religion of Muhammad. It has less ridiculous things than ours; the turks also call us idolaters."

"Agama-agama itu selalu didasarkan pada hal-hal yang ajaib, seperti halnya Trinitas yang sulit dipahami. Yesus memanggil dirinya sebagai anak Tuhan, padahal ia keturunan Daud. Saya lebih meyakini agama yang dibawa oleh Muhammad. Islam terhindar jauh dari kelucuan-kelucuan ritual seperti yang terdapat didalam agama kita (Kristen); Bangsa Turki juga menyebut kita sebagai orang-orang penyembah berhala dan dewa."Selanjutnya :

"Surely, I have told you on different occations and I have intimated to you by various discourses that I am a Unitarian Musselman and I glorify the prophet Muhammad and that I love the Musselmans."

"Dengan penuh kepastian saya telah mengatakan kepada anda semua pada kesempatan yang berbeda, dan saya harus memperjelas lagi kepada anda disetiap ceramah, bahwa saya adalah seorang Muslim, dan saya memuliakan nabi Muhammad serta mencintai orang-orang Islam." Akhirnya ia berkata :

"In the name of God the Merciful, the Compassionate. There is no god but God, He has no son and He reigns without a partner."

"Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tiada Tuhan selain Allah. Ia tidak beranak dan Ia mengatur segala makhlukNya tanpa pendamping."

Napoleon Bonaparte mengagumi AlQuran setelah membandingkan dengan kitab sucinya, Alkitab (Injil). Akhirnya ia menemukan keunggulan-keunggulan Al-Quran daripada Alkitab (Injil), juga semua cerita yang melatar belakanginya.

Referensi :1. Memoirs of Napoleon Bonaparte by Louis Antoine Fauvelet de Bourrienne edited by R.W. Phipps. Vol. 1 (New York: Charles Scribner's Sons, 1889) p. 168-169.http://chnm.gmu.edu/revolution/d/612/2. 'Napoleon And Islam' by C. Cherfils. ISBN: 967-61-0898-7http://www.shef.ac.uk/~ics/whatis/articles/napoleon.htm3. Satanic Voices - Ancient and Modern by David M. Pidcock, (1992 ISBN: 1-81012-03-1), it states on page 61, that the then official French Newspaper, Le Moniteur, carried the accounts of his conversion to Islam, in 1798 C.E


Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit