Padahal dalam Al Qur’an kita dilarang untuk mengikuti hawa nafsu manusia:

”Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,

dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” [Al Maa-idah:48-49]


Hukum manakah yang lebih baik? Hukum buatan Allah atau buatan makluk Allah yaitu Manusia? Iblis terkutuk karena merasa lebih baik daripada Adam. Adakah kita merasa bahwa hukum buatan manusia lebih baik daripada hukum Allah?


„Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” [Al Maa-idah:50]


Agar ummat Islam dapat menjalankan Hukum Allah, Allah melarang orang-orang yang beriman mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani untuk menjadi pemimpin. Ini masuk akal. Siapa sih di antara orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mau menjalankan Hukum Allah? Siapa di antara orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mau menjalankan Syariat Islam atau berjuang untuk mendirikan Negara Islam? Tidak ada bukan? Justru mereka berusaha menghalangi penegakkan syariat Islam atau pendirian Negara Islam sekuat mungkin. Mereka hanya boleh jadi pemimpin kelompok mereka sendiri:


„Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” [Al Maa-idah:51]


Ummat Islam meski mayoritas saat ini tidak bisa menjalankan hukum Allah. Para penentang hukum Allah berpendapat bahwa negara kita ini kan majemuk/plural. Jadi tidak bisa hukum Islam dijalankan. Padahal zaman Nabi orang-orang kafir, Yahudi, dan Nasrani juga sudah ada. Toh mereka tetap bisa menjalankan hukum Islam:


“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.

Dan orang-orang yang beriman akan mengatakan: “Inikah orang-orang yang bersumpah sungguh-sungguh dengan nama Allah, bahwasanya mereka benar-benar beserta kamu?” Rusak binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi.” [Al Maa-idah:52-53]


Karena itulah Allah memerintahkan ummat Islam untuk bersatu dengan orang-orang yang beriman. Karena hanya mereka inilah yang mau menjalankan hukum Allah:


Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).

Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” [Al Maa-idah:54-56]


Ada pun orang-orang yang mengejek Islam dengan berbagai perkataan jelek seperti ekstrim, teroris, kuno, dan sebagainya, haram bagi kita untuk mengangkatnya sebagai pemimpin:


”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” [Al Maa-idah:57]


Sekali lagi ummat Islam hendaknya tidak berpuas diri. Shalat, puasa, zakat, haji, serta zikir saja tidak cukup. Tapi kita harus menjalankan semua perintah Allah karena ini adalah perwujudan dari rukun Islam pertama, yaitu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Syahadah tersebut bukan hanya sekedar di bibir saja, tapi mensyaratkan ketaatan kita pada segala perintah Allah sebagai Tuhan kita dan Muhammad SAW sebagai utusan Allah. Kita tidak bisa beriman kepada sebagian ayat dan kafir pada sebagian ayat lainnya karena menganggap ada ayat Al Qur’an yang sudah tidak relevan lagi dengan zaman sekarang:


”Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat.” [Al Baqarah:85]

Oleh. Ustad Syamsul Arifin - Busan Korea
| Amir Pumita Busan.
Red. pumitabusan.com


Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
Sesungguhnya keimanan yang tinggi serta ibadah tasbih dan dzikir kepada Allah saja tidak cukup. Tapi masih harus disertai dengan ketaatan dan menjalankan perintah Allah. Jika kita tidak taat dan tidak mau menjalankan perintah Allah, maka kita termasuk golongan orang yang kafir.

Sebagai contoh: Iblis. Keimanan Iblis sangat tinggi. Dia sangat yakin akan keberadaan dan keesaan Allah karena dia pernah berdialog langsung dengan Allah. Dia juga rajin bertasbih dan berdzikir kepada Allah bersama kumpulan para Malaikat. Namun karena dia tidak mau menjalankan satu perintah Allah, yaitu sujud kepada Adam, maka Iblis menjadi orang yang kafir dan dikutuk oleh Allah:

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” [Al Baqarah:34]

Keengganan Iblis menjalankan perintah Allah karena dalam diri Iblis ada kesombongan. Dia merasa lebih baik daripada Adam:

“Berkata Iblis: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk

Allah berfirman: “Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat”.” [Al Hijr:33-35]

Akibatnya Iblis menjadi makhluk yang terkutuk.

Jika Iblis yang hanya menolak satu perintah Allah saja menjadi kafir dan terkutuk, berapa banyak ummat Islam yang menolak mentaati banyak perintah Allah dengan sengaja dan berusaha menghalangi ummat Islam lainnya menjalankan perintah/hukum Allah?

Dalam surat Al Maa-idah kita diperintahkan untuk menjalankan hukum Allah yang ada di kitab Sucinya seperti Qishash:

Al Maa-idah:

[5.44] Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.

[5.45] Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barang siapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zhalim.

Mengapa orang-orang Yahudi dimurkai Allah? Karena mereka tidak memutuskan perkara menurut hukum Allah.

Ummat Nasrani juga dinyatakan sesat dalam surat Al Fatihah karena mereka tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah:

”Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israel) dengan Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.

Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” [Al Maa-idah:46-47]

Kemudian ketika Allah menurunkan Al Qur’an, adakah kita akan memutuskan perkara menurut Al Qur’an, atau kita mengikuti hawa nafsu manusia?

Ada yang tertarik dengan ideologi Komunis/Sosialis kemudian membuat paham ”Islam Kiri.” Padahal Islam sebagai agama yang sempurna sudah mengajarkan kita untuk membantu dan menolong fakir miskin tanpa membatasi kemampuan seseorang untuk bekerja atau berproduksi. Meski Komunisme telah gagal di Uni Soviet di mana mayoritas rakyat tetap miskin dan sering antre makanan sementara para pejabatnya justru hidup mewah di dacha-dacha mereka, namun tetap ada sebagian ummat Islam yang mengikuti paham Komunis/Sosialis.

Ada lagi yang tertarik dengan paham Liberalisme/Kapitalisme Amerika Serikat hingga akhirnya melabeli Islam dengan ”Liberal” menjadi Islam Liberal. Padahal paham Liberal/Kapitalisme akhirnya mengakibatkan para pemilik modal meraup untung sebesar-besarnya dan menindas buruh/karyawan mereka dengan menekan upah mereka sekecil mungkin. Para pemilik uang juga dengan bebas mengambil kekayaan alam negara-negara di seluruh dunia seperti minyak, gas, emas, tembaga, dan sebagainya untuk sebesar-besarnya masuk ke kantong pribadi mereka. (bersambung...)

Oleh, Ustad Syamsul Arifin - Busan Korea
| Amir Pumita Busan
Red. pumitabusan.com



Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
  • Surat Al Faatihah
Dari Abi Said Rafi' bin Al Mu'alla ra. berkata: Rasulullah saw. berkata kepadaku, "Mahukah aku ajarkan kepadamu surat yang paling agung dalam Al Qur'an, sebelum kamu keluar dari masjid?" Lalu beliau memegang tanganku, dan ketika kami hendak keluar aku bertanya, " Ya Rasulullah, engkau berkata bahwa engkau akan mengajarkanku surat yang palin agung dalam Al Qur'an?" beliau menjawab, "Alhamdulillahirabbil'alamiin (Al Faatihah), ia adalah tujuh ayat yang dibaca pada setiap shalat, ia adalah Al Qur'an yang agung yang diberikan kepadaku." (Diriwayatkan oleh Bukhari)

  • Surat Al Faatihah dan beberapa ayat terakhir surat Al Baqarah
Dari Ibnu Abbas ra. berkata: Ketika Jibril a.s. sedang duduk di sisi Nabi saw. baginda mendengar suara dari atas, lalu beliau mendongakkan kepala dan bersabda, "Ini adalah pintu langit yang dibuka pada hari ini dan yang dibuka pada hari ini dan tidak pernah dibuka kecuali hari ini." Lalu turun malaikat dari pintu tersebut, kemudian beliau bersabda, "Ini adalah malaikat yang turun ke bumi dan dia tidak pernah turun kecuali hari ini." Lalu dia (malaikat) memberi salam seraya berkata, "Aku membawa berita gembira dengan dua cahaya yang diturunkan kepada engkau dan tidak pernah diberikan kepada nabi sebelummu, yaitu: Surat Al Faatihah dan beberapa ayat terakhir Surat Al Baqarah, tidaklah kamu membaca satu huruf daripadanya kecuali kamu medapat karunia." (Diriwayatkan oleh Muslim)

  • Surat Al Baqarah
Dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Janganlah kau jadikan rumah-rumahmu seperti kuburan, sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang di dalamnya dibaca surat Al Baqarah." (Diriwayatkan oleh Muslim)

  • Ayat Kursi
Dari Ubai bin Ka'ab ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda, "Wahai Abu Munzir, tahukah engkau ayat manakah dalam Al Qur'an yang paling agung menurutmu?" Aku menjawab, "Allahu laailaaha illa huwalhayyul qoyyuum (ayat kursi)", Lalu beliau menepuk dadaku dan bersabda, "Semoga Allah memudahkan ilmu bagimu wahai Abu Munzir." (Diriwayatkan oleh Muslim)
  • Dua ayat terakhir surat Al Baqarah
Dari Abi Mas'ud Al Badri ra. dari Rasulullah saw. beliau bersabda, "Barangsiapa membaca dua ayat terakhir surat Al Baqarah pada waktu malam niscaya ia akan mencukupinya." (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)
  • Al Baqarah dan Ali 'Imran
Dari Abi Umamah Al Bahili berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Bacalah Al Qur'an karena di hari kiamat kelak ia akan memberikan syafaat bagi pembacanya, bacalah zahrawaen, yaitu: surat Al Baqarah dan surat Ali 'Imran. Sesungguhnya pada hari kiamat nanti keduanya akan datang bagaikan dua awan atau dua kawanan burung yang berbaris yang siap membantu orang-orang yang pernah membacanya. Dan bacalah surah Al Baqarah kerana membacanya adalah suatu barakah dan meninggalkannya adalah suatu kerugian. Dan tukang sihir tak akan sanggup menghasilkannya." (Diriwayatkan oleh Muslim)
  • Sepuluh ayat dari surat Al Kahfi
Dari Abi Darda' ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Barang siapa menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al Kahfi, maka akan terjaga dari dajal." Dalam riwayat yang lain: "...sepuluh ayat terakhir..." (Diriwayatkan oleh Muslim)
  • Membaca surat Al Kahfi pada hari Jum'at
Dari Abi Said Al Khudri ra. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Barang siapa membaca surat Al Kahfi pada hari Jum'at akan diterangi cahaya antara dua Jum'at." (Diriwayatkan oleh Hakim dan Baihaqi, Hadis di atas sahih)

  • Surat Tabaarak (Al Mulk)
Dari Abu Huroiroh, Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Ada surat dari Alqur’an yang terdiri dari 30 ayat, Surat tersebut dapat memberikan syafa’at bagi ‘temannya’ (yakni orang yang banyak membacanya) sehingga orang tersebut diampuni dosanya, yaitu: Surat Tabarokalladi bi yadihil mulk“. (HR. Abu Dawud dg redaksinya, diriwayatkan pula oleh at-Tirmidzi dan yang lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Ibnu Hibban, al-Hakim, dan adz-Dzahabi, sedangkan at-Tirmidzy menghasankannya)

Anas bin Malik mengatakan, Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Ada surat dari Alqur’an, ia hanya terdiri dari 30 ayat, Surat tersebut dapat membela ‘temannya’ sehingga memasukkannya ke surga, yaitu: Surat Tabarok“. (HR. Thobaroni dalam Mu’jamul Ausath)

Abdulloh bin Mas’ud mengatakan: “Barangsiapa membaca surat Tabarokalladi bi yadihil mulk setiap malam, maka Alloh azza wajall menghindarkannya dari adzab kubur, dan dahulu kami (para sahabat) di saat Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- (masih hidup) menamainya “al-Mani’ah” (penghindar/penghalang). Sungguh surat tersebut ada dalam Kitabulloh, barangsiapa membacanya dalam suatu malam, maka ia telah banyak berbuat kebaikan” (HR. Nasa’i dengan redaksinya, diriwayatkan pula oleh al-Hakim dan ia mengatakan: sanadnya shohih,)

Dari Jabir, sesungguhnya Nabi -shollallohu alaihi wasalam- tidak pernah tidur (malam) sehingga ia membaca surat Alif lam mim tanzil (biasa disebut Surat as-Sajdah) dan surat Tabarokalladi bi yadihil mulk (biasa disebut surat al-Mulk). (HR. Ahmad, at-Tirmidzi dan yang lainnya,)

Dari Waatsilah ibnul Asqo’, sesungguhnya Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Aku telah dikaruniai Assab’u yang sebanding dengan kitab Taurat, aku juga diberi Alma’in yang sebanding dengan kitab Zabur, aku juga diberi Almatsani yang sebanding dengan kitab Injil, dan aku dikaruniai kelebihan dengan Almufash-shol” (HR. Ahmad, dan Al-Arnauth).Dari Ibnu Mas'ud ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda, "Surat Tabarak (Al Mulk) adalah penjaga dari azab kubur." (Diriwayatkan oleh Hakim dan Abu Na'im, Hadis di atas sahih)
  • Surat At-Takwiir, Al Infithaar dan Al Insyiqaaq
Dari Ibnu Umar ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa yang suka untuk melihat aku di hari kiamat dengan sebenar-benar penglihatan, maka bacalah surat At-Takwiir, Al Infithaar dan Al insyiqaq." (Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmizi dan Hakim).
  • Surat Al Ikhlash
Dari Abi Said Al Khudri ra. bahawa Rasulullah saw. bersabda tentang Qul Huwallahu ahad; "Demi Allah --Yang diriku berada di dalam genggaman-Nya--, sesungguhnya ia (Al Ikhlash) menyamai sepertiga Al Qur'an." Pada riwayat lain Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabatnya, "Adakah di antara kamu yang tidak sanggup membaca sepertiga Al Qur'an dalam satu malam?" Hal ini memang berat bagi mereka, lalu mereka bertanya, "Siapakah di antara kami yang mampu ya... Rasulullah?" Beliau bersabda, "Qul Huwallahu ahad Allahush-Shamad, adalah sepertiga Al Qur'an." (Diriwayatkan oleh Bukhari)
  • Membaca sepuluh kali surat Al Ikhlash
Dari Mu'az bin Anas ra. Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa membaca Qul huwallahu ahad sebanyak sepuluh kali niscaya Allah akan membangun rumah baginya di surga." (Diriwayatkan oleh Ahmad)
  • Surat Al Falaq dan An-Naas
Dari 'Uqbah bin 'Amir ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, " Adakah kau lihat ayat-ayat yang diturunkan pada malam ini dan selainnya tidak dapat dilihat sepertinya?, dialah: Qul a'udzu birabbil falaq' dan 'Qul a'udzu birabbin-naas." (Diriwayatkan oleh Muslim)
  • Surat Al Ikhlash, Al Falaq dan An-Naas
Dari Aisyah ra. bahwa Rasulullah saw. apabila akan berangkat tidur tiap-tiap malam beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya kemudian meniupkannya seraya membaca surat Al Ikhlash, Al Falaq dan An-Naas. Kemudian beliau mengusapkannya ke seluruh tubuhnya (sebatas yang bisa) dimulai dari kepala lalu muka kemudian bagian depan dari badan. Beliau melakukannya sebanyak tiga kali. (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)
  • Membaca surat Al Ikhlash, Al Falaq dan An-Naas ketika sakit.
Abdullah bin Yusuf bercerita kepada kami, Malik bercerita kepada kami dari Ibnu Syihab, dari 'Urwah, dari 'Aisyah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bila merasa sakit beliau membaca sendiri 'Al Mu'awwizaat'(Al Ikhlash, Al Falaq dan An-Naas) kemudian meniupkannya. Dan apabila rasa sakitnya bertambah aku yang membacanya kemudian aku usapkan ke tangannya mengharap keberkahan darinya. (Diriwayatkan oleh Bukhari)

KEUTAMAAN SURAT AL MU'AWWIZAATAIN

( Surat Al Ikhlash, Al Falaq dan An-Naas )

Dari 'Uqbah bin 'Amir ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, Adakah kau lihat ayat-ayat yang diturunkan pada malam ini dan selainnya tidak dapat dilihat sepertinya?, dialah: Qul a'udzu birabbil falaq' dan 'Qul a'udzu birabbin-naas." (Diriwayatkan oleh Muslim)

Dari Aisyah ra. bahwa Rasulullah saw. apabila akan berangkat tidur tiap-tiap malam beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya kemudian meniupkannya seraya membaca surat Al Ikhlash, Al Falaq dan An-Naas. Kemudian beliau mengusapkannya ke seluruh tubuhnya (sebatas yang bisa) dimulai dari kepala lalu muka kemudian bagian depan dari badan. Beliau melakukannya sebanyak tiga kali. (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)


Asbabun Nuzul

Surat Al-FALAQ Dan AN-NAAS :

Imam Baihaqi di dalam kitab Dalaailun Nubuwwah-nya mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Al Kalbi yang diterimanya dari Abu Saleh, Abu Saleh menerimanya dari Ibnu Abbas r.a. Ibnu Abbas r.a. menceritakan, bahwa Rasulullah saw. mengalami sakit keras, lalu dua malaikat datang menemuinya. Salah seorang duduk di sebelah kepalanya sedangkan yang lainnya di sebelah kakinya. Malaikat yang berada di sebelah kedua kakinya berkata kepada malaikat yang berada di sebelah kepalanya: "Apakah yang kamu lihat?" Malaikat yang berada di sebelah kepalanya menjawab: "Thabb". Malaikat yang berada di sebelah kakinya bertanya: "Apakah Thabb itu?" Ia menjawab: "Sihir". Malaikat yang ada di sebelah kakinya bertanya: "Siapakah yang menyihirnya?" Ia menjawab: "Lubaid Al A'sham orang Yahudi". Malaikat yang berada di sebelah kakinya bertanya: "Di manakah sihir itu disimpan?" Malaikat yang ada di sebelah kepalanya menjawab: "Di dalam sumur keluarga si Polan, ia terletak di bawah sebuah batu besar dalam keadaan terbungkus". Kemudian mereka berdua mendatangi sumur itu, lalu mereka menguras airnya dan mengangkat batu besar, kemudian mereka mengambil buntelan itu lalu membakarnya. Dan pada waktu subuh, yaitu pagi hari dari malam itu Rasulullah saw. mengutus Ammar ibnu Yasir beserta beberapa orang lainnya untuk mengambil buntelan sihir itu. Lalu mereka mendatangi sumur tersebut, tiba-tiba sesampainya mereka di sana melihat air sumur itu seakan-akan berwarna merah darah. Selanjutnya mereka menguras air sumur tersebut lalu mengangkat batu besar yang ada di dalamnya, lalu mereka mengeluarkan buntelan sihir kemudian langsung membakarnya. Ternyata di dalam buntelan itu terdapat seutas tali yang padanya ada sebelas buhul atau ikatan. Kemudian diturunkan kedua surah ini kepada Rasulullah saw., setiap kali beliau membaca satu ayat dari kedua surah tersebut terlepuslah satu ikatannya.

Kedua surah tersebut; yang pertama dimulai dengan firman-Nya, "Katakanlah!, 'Aku berlindung kepada Rabb Yang menguasai subuh ...'" (Q.S. Al Falaq, 1) dan surah yang kedua diawali dengan firman-Nya, "Katakanlah!, 'Aku berlindung kepada Rabb manusia...'" (Q.S An Naas, 1)

Asal hadis ini mempunyai Syahid di dalam kitab Sahih hanya, tanpa disebutkan turunnya kedua surah tersebut; akan tetapi turunnya kedua surah itu memiliki Syahid yang lainnya yang memperkuat Asbaabun Nuzul kedua surah itu. Imam Abu Na'im di dalam kitab Dalaail mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Abu Jakfar Ar Raazi yang ja telah menerimanya dari Ar Rabi' ibnu Anas, kemudian Ar Rabi' telah menerimanya pula dari Anas ibnu Malik r.a. Anas ibnu Malik r.a. menceritakan, bahwa ada seorang Yahudi berbuat sesuatu terhadap Rasulullah uaw. Maka karena hal tersebut, Rasulullah saw. mengalami sakit keras, ketika para sahabat datang menjenguknya, mereka mengira, bahwa hal itu hanyalah diakibatkan saki biasa. Kemudian datanglah malaikat Jibril dengan membawa turun kedua surah ini; malaikat Jibril segera mengobatinya dengan membacakan kedua surah itu. Lalu Rasulullah saw. keluar menemui para sahabatnya dalam keadaan sehat dan segar-bugar.

Surat AL-IKHLAS :

Imam Tirmizi, Imam Hakim dan Imam Ibnu Khuzaimah, telah mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Abul Aliyah, yang ia terima dari Ubay bin Kaab, bahwasanya orang-orang musyrik telah berkata kepada Rasulullah saw., "Ceritakanlah kepada kami mengenai Rabbmu." Maka Allah menurunkan firman-Nya, "Katakanlah! 'Dialah Allah Yang Maha Esa.'" (Q.S. Al Ikhlash, 1 hingga akhir surah)

Imam Tabrani dan Imam Ibnu Jarir mengetengahkan hadis yang sama melalui hadis yang diriwayatkan oleh Jabir bin 'Abdullah. Dengan demikian maka dapat disimpulkan, bahwa surah Al Ikhlash ini termasuk surah Makiah. Imam Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas, bahwasanya orang-orang Yahudi datang kepada Nabi saw. di antara mereka terdapat Kaab bin Asyraf dan Huyay bin Akhthab. Mereka berkata, "Hai Muhammad! Gambarkanlah kepada kami Rabbmu yang telah mengutusmu." Maka Allah swt. menurunkan firman-Nya, "Katakanlah! Dialah Allah Yang Maha Esa'." (Q.S. 112 Al Ikhlash, 1 hingga akhir surah)

Imam Ibnu Jarir mengetengahkan pula hadis yang sama melalui Qatadah. Demikian pula Imam Ibnu Munzir mengetengahkan pula hadis yang sama melalui Said bin Jubair. Maka dengan riwayat ini dapat disimpulkan bahwa surah ini termasuk ke dalam kelompok surah Madaniah.

Imam Ibnu Jarir mengetengahkan sebuah hadis melalui Abul Aliyah yang menceritakan, bahwa ia telah mendengar Qatadah menuturkan sebuah hadis, bahwasanya golongan yang bersekutu mengatakan kepada Nabi saw., "Gambarkanlah kepada kami Rabbmu." Lalu datanglah malaikat Jibril kepada Nabi saw. dengan membawa surah ini. Inilah orang-orang musyrik yang dimaksud di dalam hadis Ubay tadi, dengan demikian maka dapat disimpulkan, bahwa surah ini termasuk ke dalam kelompok surah Madaniah. Seperti halnya pula pengertian yang diisyaratkan oleh hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a. dan kedua hadis tersebut tidak bertentangan.

Akan tetapi Imam Abu Syekh di dalam kitabnya Al 'Azhamah, mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Abban yang ia terima dari Anas r.a. yang menceritakan, bahwasanya orang-orang Yahudi Khaibar datang kepada Nabi saw. lalu mereka berkata, "Hai Abul Qasim! (nama julukan Nabi Muhammad) Allah telah menciptakan malaikat dari nur (cahaya) al Hijab, Nabi Adam dari lumpur hitam yang diberi bentuk, iblis dari nyala api, langit dari asap dan bumi dari buih air. Maka ceritakanlah kepada kami tentang Rabbmu." Nabi tidak menjawab mereka, maka datanglah malaikat Jibril dengan membawa surah ini, yaitu firman-Nya, "Katakanlah! Dialah Allah Yang Maha Esa." (Q.S. 112 Al-Ikhlash, 1 hingga akhir surah).

-------------------------------------------------------------------------------------------------

AN-NAAS
1
قُلْأَعُوذُبِرَبِّالنَّاسِ
Katakanlah:` Aku berlindung kepada Tuhan manusia,

(QS. 114:1)

2
مَلِكِالنَّاسِ

raja manusia,

(QS. 114:2)

3
إِلَهِالنَّاسِ

sembahan manusia,

(QS. 114:3)

4
مِنشَرِّالْوَسْوَاسِالْخَنَّاسِ

dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,

(QS. 114:4)

5
الَّذِييُوَسْوِسُفِي صُدُورِالنَّاسِ

Yang membisikkan (kejahatan) dalam dada manusia,

(QS. 114:5)

6
مِنَالْجِنَّةِوَ النَّاسِ

dari jin dan manusia.

(QS. 114:6)

--------------------------------------------------------------------------------

TAFSIR

Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan Rasul-Nya termasuk pula di dalamnya seluruh umatnya agar memohonkan perlindungan kepada Tuhan yang menjadikan, menjaga, menumbuhkan, mengembangkan dan menjaga kelangsungan hidup manusia dengan nikmat dan kasih sayang-Nya serta memberi peringatan kepada mereka dengan ancaman-ancaman-Nya.

Allah SWT menjelaskan bahwa Tuhan yang mendidik manusia itu adalah yang memiliki dan yang mengatur semua syariat, dan yang membuat undang-undang, dan yang membuat peraturan-peraturan dan hukum-hukum agama. Barangsiapa mematuhinya akan berbahagia hidup di dunia dan di akhirat.

Allah SWT menambah keterangan tentang Tuhan pendidik manusia ialah yang menguasai jiwa mereka dengan kehesaran-Nya. Mereka tidak mengetahui kekuasaan Allah itu secara keseluruhan, tetapi mereka tunduk kepada-Nya dengan sepenuh hatinya dan mereka tidak mengetahui bagaimana datangnya dorongan hati kepada mereka itu, sehingga dapat mempengaruhi seluruh jiwa raga mereka.

Mendahulukan kata "RABB" (pendidik) dari kata "Malik" dan dari kata "Ilah" karena didikan adalah nikmat Allah yang paling utama dan terbesar bagi manusia. Kemudian yang kedua diikuti dengan kata "Malik" (Raja) karena manusia harus tunduk kepada kerajaan Allah sesudah mereka dewasa dan berakal. Kemudian diikuti dengan kata "Ilah" (sembahan), karena manusia sesudah berakal menyadari bahwa hanya kepada Allah mereka harus tunduk dan hanya Dia saja yang berhak untuk disembah.

Allah menyatakan dalam ayat-ayat ini bahwa Dia Raja manusia, Pemilik manusia dan Tuhan manusia, bahkan Dia adalah Tuhan segala sesuatu. Tetapi di lain pihak manusialah yang membuat kesalahan dan kekeliruan dalam menyifati Allah sehingga mereka tersesat dari jalan lurus. Mereka mengadakan tuhan-tuhan lain yang mereka sembah dengan anggapan bahwa tuhan-tuhan itulah yang memberi nikmat dan bahagia serta menolak bahaya dari mereka, yang mengatur hidup mereka, menggariskan batas-batas yang boleh atau tidak boleh mereka lakukan. Mereka memberi nama tuhan-tuhan itu dengan pembantu-pembantunya dan menyangka bahwa tuhan-tuhan itulah yang mengatur segala gerak-gerik mereka.

Dalam ayat lain yang hampir sama artinya Allah berfirman:
اتخذوا أحبارهم ورهبانهم أربابا من دون الله والمسيح ابن مريم وما أمروا إلا ليعبدوا إلها واحدا لا إله إلا هو سبحانه عما يشركون

Artinya:
Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
(Q.S. At Taubah: 31)
Dan firman-Nya:

ولا يأمركم أن تتخذوا الملائكة والنبيين أربابا أيأمركم بالكفر بعد إذ أنتم مسلمون

Artinya:
Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para Nabi sebagai Tuhan. Apakah (patut) Dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam!. (Q.S. Ali Imran: 80).

Maksudnya, dengan ini Allah memperingatkan manusia bahwa Dia-lah yang mendidik mereka sedang mereka adalah manusia-manusia yang suka berfikir dan Dia raja mereka dan Dia pula Tuhan mereka menurut pikiran mereka, maka tidak benarlah apa yang mereka ada-adakan untuk mendewa-dewakan diri mereka padahal mereka manusia biasa.

Dalam ayat ini Allah memerintahkan manusia agar berlindung kepada Allah Rabbul Alamin dari kejahatan bisikan setan yang senantiasa bersembunyi di dalam hati manusia.

Bisikan dan was-was yang berasal dari godaan setan itu bila dihadapkan kepada akal yang sehat mesti kalah dan orang yang tergoda menjadi sadar kembali, karena semua bisikan dan was-was setan yang akan menyakiti mausia itu akan menjadi hampa bila jiwa sadar kembali kepada perintah-perintah agama. Begitu pula bila seorang menggoda temannya yang lain untuk melakukan suatu kejahatan, tetapi temannya itu berpegang kuat dengan perintah-perintah agama niscaya ia akan berhenti menggoda dan merasa kecewa karena godaannya itu tidak berhasil namun ia tetap menunggu kesempatan yang lain.

Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan tentang godaan tersebut, iaitu bisikan setan yang tersembunyi yang ditiupkan ke dalam dada manusia, yang mungkin datangnya dari jin atau manusia, sebagaimana dalam ayat lain yang hampir sama maksudnya Allah berfirman:
وكذلك جعلنا لكل نبي عدوا شياطين الإنس والجن

Artinya:
"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) Jin". Q.S. (Al An'am): 112.

Setan-setan jin itu seringkali membisikkan suatu keraguan dengan cara yang sangat halus kepada manusia. Seringkali dia menampakkan dirinya sebagai penasehat yang ikhlas, tetapi bila engkau menghardiknya ia mundur dan bila diperhatikan bicaranya ia terus melanjutkan godaannya secara berlebih-lebihan.

Dalam hal ini Nabi SAW. telah bersabda:

ان الله تجاوز لأمتي عما حدثت أنفسها ما لم تعمل أو تتكلم به "رواه أبو هريرة وخرجه مسلم
Artinya:
Sesungguhnya Allah SWT memaafkan dari umatku bisikan Jiwanya, selama ia belum mengamalkan atau mengucapkannya. HR. Bukhari dari Abu Hurairah.

Syekh Muhammad Abduh berpendapat bahwa yang menyebabkan bisikan itu ada dua macam:

  1. Dari jin yaitu sebangsa makhluk yang halus yang tersembunyi yang tidak dapat dikenal tetapi hanya dapat dirasakan bekas bisikannya dalam diri kita. Bagi setiap manusia ada setannya, yaitu kekuatan batin yang mendorong dia berbuat jahat, yang membisikkan ke dalam jiwanya bisikan-bisakan jahat.
  2. Dari setan manusia; godaan manusia ini dapat kita saksikan dengan jelas, dengan melihat dan mendengarnya.
Tersebut dalam beberapa hadis tentang adanya belalai setan, hidung setan, paruh setan yang melekat di dada manusia atau di hati, itu semua adalah gambaran dan perumpamaan saja.
Surah ini dimulai dengan kata "Pendidik", karena itu Tuhan sebagai Pendidik manusia, berkuasa untuk menolak semua godaan setan dan bisikannya dari manusia.

Allah memberi petunjuk dalam surah ini agar manusia memohon pertolongan hanya kepada Allah saja sebagaimana Dia telah memberi petunjuk yang serupa dalam surah Al Fatihah, bahwa dasar yang terpenting dalam agama adalah menghadapkan diri dengan penuh keikhlasan kepada Allah baik dalam ucapan, maupun perbuatan lainnya dan memohon perlindungan kepada-Nya dari segala godaan setan yang ia sendiri tidak mampu menolaknya.

-----------------------------------------------------------------------------------------

Al-FALAQ
1
قُلْأَعُوذُبِرَبِّالْفَلَقِ

Katakanlah:` Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh,

(QS. 113:1)

2
مِنشَرِّ مَاخَلَقَ

dari kejahatan makhluk-Nya,

(QS. 113:2)

3
وَمِنشَرِّغَاسِقٍإِذَاوَقَبَ

dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,

(QS. 113:3)

4
وَمِنشَرِّالنَّفَّاثَاتِفِيالْعُقَدِ

dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,

(QS. 113:4)

5
وَمِنشَرِّحَاسِدٍإِذَاحَسَدَ

dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dengki `.

(QS. 113:5)

--------------------------------------------------------------------------------

TAFSIR

Dalam ayat-ayat berikut ini Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya termasuk juga seluruh kaum muslimin supaya selalu berlindung kepada Tuhan Pencipta semua makhluk agar terpelihara dari segala macam kejahatan atau akibat kejahatan yang ditimbulkan oleh makhluk-makhluk yang telah diciptakan-Nya.

lihat ayat 1.
Kemudian dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa sebagian makhluk-makhluk-Nya sering menimbulkan kejahatan pada waktu malam bila segala sesuatu telah diliputi oleh kegelapan. Dalam pada itu keadaan malam bila telah gelap gulita menyebabkan kita takut dan gelisah, seakan-akan ada sesuatu yang tersembunyi dalam kegelapannya yang akan menyakiti kita sebagai pembantu musuh-musuh kita.

Dalam ayat ini Allah menambah bagian makhluk yang diminta agar kita terlindung dari kejahatan tukang sihir yang meniupkan mantera-mantera dengan maksud memutuskan tali kasih sayang dan mengoyak-ngoyak ikatan persaudaraan; seperti ikatan nikah dan lain-lain. Perbuatan sihir itu dapat mengubah kasih sayang antara dua teman yang akrab menjadi permusuhan. Penghasut membawa berita yang nampaknya benar dan sulit mendustakannya, sebagaimana dilakukan oleh tukang sihir dalam usahanya memisahkan suami istri.

Syekh Muhammad 'Abduh berkata: "Berkenaan dengan keterangan tersebut di atas, telah diriwayatkan hadis tentang Nabi SAW. yang disihir oleh Labid bin A'sam, yang sangat mengesankan pada pribadi Nabi; sehingga seakan-akan beliau mengerjakan sesuatu padahal beliau tidak mengerjakannya, atau mengambil sesuatu padahal beliau tidak mengambilnya. Lalu Allah memberitahukan kepadanya tentang tukang sihir itu. Kemudian dikeluarkan sihir itu dalam hatinya, lalu Nabi SAW. menjadi sehat kembali, lalu turunlah surah ini.

Nabi SAW. kena sihir sehingga menyentuh akal yang berhubungan langsung dengan jiwa beliau, karena itu orang-orang musyrik berkata, sebagaimana firman Allah.
إن تتبعون إلا رجلا مسحورا

Artinya: "Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir". (Q.S. Al Isra': 47).

Yang wajib kita itikadkan bahwa Alquran adalah mutawatir dan menyangkal bahwa Nabi SAW. kena sihir, karena yang menyatakan demikian itu adalah orang-orang musyrik, Alquran mencela ucapan mereka itu.

Hadis tersebut seandainya termasuk di antara hadis-hadis sahih, tetapi dia tergolong hadis ahad yang tidak cukup untuk dijadikan dasar dalam akidah. Sedangkan kemaksuman nabi-nabi adalah merupakan akidah yang telah dipegangi dengan yakin. Terhindarnya Nabi SAW. dari sihir bukanlah berarti mematikan sihir secara keseluruhan. Mungkin seseorang yang kena sihir menjadi gila akan tetapi mustahil terjadinya bagi Nabi SAW. karena Allah menjaga dan melindunginya.

Dijelaskan bahwa surai Al Falaq ini adalah surah Makkiyah yang diturunkan sebelum hijrah menurut pernyataan "Ata", Hasan dan Jabir, sedang yang mereka tuduhkan bahwa Nabi SAW. kena sihir di Madinah, maka sangat lema untuk berpegang pada hadis tersebut dan untuk menyatakan hadis sahih. Kita harus berpegang pada nas Alquran dan tidak perlu berpegang kepada hadis ahad tersebut.

Dalam ayat ini Allah SWT menyebutkan bagi makhluk yang lain yang kita disuruh berlindung kepada-Nya, yaitu: "Kami berlindung kepada Engkau Ya Tuhan kami dari kejahatan orang-orang yang dengki bila ia melaksanakan kedengkiannya dengan usaha yang sungguh-sungguh untuk menghilangkan nikmat orang yang dijadikan obyek kedengkiannya dengan bermacam-macam cara dan dengan mengadakan perangkap-perangkap untuk menjebak orang yang didengkinya jatuh ke dalam kemudaratan. Tipu muslihat yang dijalankannya itu adalah sangat licik sehingga sulit mengetahuinya. Tiada jalan untuk menghindarinya dan tidak ada jalan kecuali dengan memohon bantuan kepada Allah Maha Pencipta karena Dia-lah yang dapat menolak tipu dayanya, menghindari kejahatannya atau menggagalkan usahanya.

--------------------------------------------------------------------------------

AL-IKHLAS
1
قُلْهُوَاللَّهُأَحَدٌ



Katakanlah: `Dialah Allah, Yang Maha Esa`.

(QS. 112:1)

2
اللَّهُالصَّمَدُ

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
(QS. 112:2)

3
لَمْيَلِدْوَلَمْيُولَدْ

Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan,

(QS. 112:3)

4
وَلَمْيَكُن لَّهُكُفُوًاأَحَدٌ

dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia `.

(QS. 112:4)

--------------------------------------------------------------------------------

TAFSIR

Dahhak meriwayatkan bahwa orang-orang musyrik mengutus kepada Nabi Muhammad SAW Amir bin Tufail, menyampaikan amanah mereka kepada Nabi, ia berkata: "Engkau telah memecah belahkan keutuhan kami, memaki-maki "tuhan" kami, berubah agama nenek moyangmu. Jika engkau miskin dan mau kaya kami berikan engkau harta. Jika engkau gila kami obati. Jika engkau ingin wanita cantik akan kami kawinkan engkau dengannya". Nabi menjawab:

لست بفقير ولا مجنون ولا هويت امرأة أنا رسول الله أدعوكم من عبادة الأصنام إلى عبادته. فأرسلوه ثانية وقالوا: قل له بين لنا جنس معبودك. امن ذهب أو من فضة؟ فأنزل الله هذه السورة.
Artinya:
"Aku tidak miskin, tidak gila, tidak ingin kepada wanita. Aku adalah Rasul Allah, mengajak kamu meninggalkan penyembahan berhala dan mulai menyembah Allah Yang Maha Esa", kemudian mereka mengutus utusannya yang kedua kalinya dan bertanya kepada Rasulullah. Terangkanlah kepada kami macam Tuhan yang engkau sembeh itu. Apakah Dia dari emas atau perak?", lalu Allah menurunkan surah ini. (HR. Dahhak)

Surah ini meliputi dasar yang paling penting dari risalah Nabi SAW. iaitu mentauhidkan Allah dan menyucikan-Nya serta meletakkan pedoman umum dalam beramal sambil menerangkan amal perbuatan yang baik dan yang jahat, menyatakan keadaan manusia sesudah mati mulai dari sejak berbangkit sampai dengan menerima balasannya berupa pahala atau dosa.

Telah diriwayatkan dalam hadis, "Bahwa surah ini sebanding dengan sepertiga Alquran," karena barang siapa menyelami artinya dengan bertafakur yang mendalam, niscaya jelaslah kepadanya bahwa semua penjelasan dan keterangan yang terdapat dalam Islam tentang tauhid dan kesucian Allah dari segala macam kekurangan merupakan perincian dari isi surah ini.

Pada ayat ini Allah menyuruh Nabi-Nya menjawab pertanyaan orang-orang yang menanyakan tentang sifat Tuhannya, bahwa Dia adalah Allah Yang Maha Esa, tidak tersusun dan tidak berbilang, karena berbilang dalam susunan zat berarti bahwa bagian kumpulan itu memerlukan bagian yang lain, sedang Allah sama sekali tidak memerlukan sesuatu apapun. Tegasnya keesaan Allah itu meliputi tiga hal: Dia Maha Esa pada zat-Nya, Maha Esa pada sifat-Nya dan Maha Esa pada afal-Nya.

Maha Esa pada zat-Nya berarti zat-Nya tidak tersusun dari beberapa zat atau bagian. Maha Esa pada sifat-Nya berarti tidak ada satu sifat makhlukpun yang menyamai-Nya dan Maha Esa pada af'al-Nya berarti hanya Dialah yang membuat semua perbuatan sesuai dengan firman-Nya.

إنما أمره إذا أراد شيئا أن يقول له كن فيكون

Artinya: Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia. (Q.S. Yasin: 82).

Pada ayat ini Allah menambahkan penjelasan tentang sifat Tuhan Yang Maha Esa itu, yaitu Dia adalah Tuhan tempat meminta dan memohon.

Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa Maha Suci Dia dari mempunyai anak. Ayat ini juga menentang dakwaan orang-orang musyrik Arab yang mengatakan bahwa malaikat-malaikat adalah anak-anak perempuan Allah dan dakwaan orang Nasrani bahwa Isa anak laki-laki Allah.
Dalam ayat lain yang sama artinya Allah berfirman:

فاستفتهم ألربك البنات ولهم البنون أم خلقنا الملائكة إناثا وهم شاهدون ألا إنهم من إفكهم ليقولون ولد الله وإنهم لكاذبون

Artinya: Tanyakanlah (ya Muhammad) kepada mereka (orang-orang kafir Mekah) "Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak-anak laki-laki, atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan (nya)? Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan: "Allah beranak". Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta. (Q.S. As Saffat: 149-152).

Dan Dia tidak beranak, tidak pula diperanakkan.

Dengan demikian Dia tidak sama dengan makhluk lainnya, Dia berada tidak didahului oleh tidak ada. Maha suci Allah dari apa yang tersebut.

Ibnu 'Abbas berkata: "Dia tidak beranak sebagaimana Maryam melahirkan Isa A.S. dan tidak pula diperanakkan. Ini adalah bantahan terhadap orang-orang Nasrani yang mengatakan Isa Al Masih adalah anak Allah dan bantahan terhadap orang-orang Yahudi yang mengatakan Uzair adalah anak Allah.

Dalam ayat ini Allah menjelaskan lagi bahwa tidak ada yang setara dan sebanding dengan Dia dalam zat, Sifat dan perbuatan-Nya. Ini adalah tantangan terhadap orang-orang yang beriktikad bahwa ada yang setara dan menyerupai Allah dalam perbuatannya, sebagaimana pendirian orang-orang musyrik Arab yang menyatakan bahwa malaikat itu adalah sekutu Allah.

Untuk meresapkan arti ketauhidan kepada Allah yang terkandung dalam surah Al Ikhlas, maka kami mencantumkan pada akhir tafsir surah ini sebuah munajat kepada Allah yang diamalkan oleh mereka yang tekun melaksanakan ibadahnya:
بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله حمدا يوافي نعمه ويكافئ مزيده، والصلاة والسلام على من لا نبي بعده، وعلى آله وصحبه ومن والاه، يا من لا أرى سواه وإن تعددت المظاهر ولا أناجي إلا إياه وإن كثرت الظواهر ولا أبتغي إلا جدواه وإن تنوعت المصادر أسألك بحق توحيدك في الوجود وتعدد تجلياتك في الشهود وبحرمة ظهورك للبصائر واحتجابك عن المشاعر أن تقضي حاجتي إليك.... وإن لا تجعل فيها معولي إلا عليك وصلى الله على سيدنا (3 kali) محمد النبي الأمي وعلى آله وصحبه"

Artinya:
"Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang Segala puji bagi Allah dengan pujian yang sesuai dengan nikmat-nikmat-Nya dan seimbang nikmat tambahan-Nya. Semoga rahmat dan keselamatan dilimpahkan kepada Nabi penutup, Muhammad SAW yang tidak ada lagi Nabi sesudahnya dan kepada sekalian keluarganya, sahabat dan sekalian yang mencintainya. Ya Allah, Tuhan yang aku tidak melihat (dengan mata hatiku) selain Dia, walaupun banyak gejala-gejala nampak, dan yang aku tidak bermunajat melainkan kepada-Nya saja, walaupun banyak wujud-wujud di alam lahir dan yang aku tidak menginginkan melainkan manfaat-Nya walaupun banyak sumber-sumber pengambilannya. Aku mohon kepada-Mu dengan tawassul kepada keesaan-Mu di alam wujud dan berbilangnya tajalli (penampakan kekuasaan-Mu) di alam pancaindera dan dengan kehormatan nampaknya keagungan-Mu bagi mata hati dan tertutupnya Engkau dari jangkauan pancaindera, agar kiranya Engkau mengabulkan hajat permohonanku ini dan agar Engkau tidak membiarkan aku bersandar pada permohonanku ini; (sebutkan hajat yang dimaksud) apa hanya semata-mata kepada rahmat karunia-Mu saja dan semoga rahmat keselamatan dilimpahkan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, Nabi yang ummi dan kepada sekalian keluarganya dan sahabatnya. (3x).

Munajat ini mengandung pula permohonan dipenuhi segala hajat keperluan yang direnungkan ketika sampai kepada kalimat:
أن تقضي حاجتي إليك.

Oleh, Ust. Syamsul Arifin - Busan Korea
| Amir Pumita Busan.
Red. pumitabusan.com



Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
Oleh Rusnaldy " Setetes Embun di Negeri Kimchi "

Sebagai seorang muslim sering kita ditanya mengapa kita tidak diperbolehkan makan babi. Sudah banyak yang membahas tentang efek buruk dari daging binatang yang satu ini, baik dari sisi kesehatan dan juga dari segi perilaku manusianya.

Dari sisi kesehatan terungkap bahwa babi adalah hewan yang hidupnya paling jorok. Tak jarang ia memakan kembali kotorannya sendiri. Juga terungkap bahwa babi merupakan inang dari berbagai parasit dan penyakit berbahaya.

Dari sisi perilaku manusia yang mengkonsumsi babi ada istilah „You are what you eat“. Artinya kurang lebih adalah kamu seperti makanan (binatang) yang kamu makan. Perilaku babi yang tidak memiliki kecemburuan manakala pasangannya dicumbu oleh babi yang lain disinyalir juga menular pada manusia.

Tetapi manakala alasan-alasan tersebut dikemukakan kepada orang Korea, bisa dipastikan mereka akan tertawa, karena dilihat dari fakta yang ada orang-orang Korea tetap sehat dan malah rata-rata usia mereka lebih panjang walaupun mengkonsumsi babi hampir setiap hari bila dibandingkan dengan orang Indonesia yang mayoritas muslim dan tidak memakan babi. Kita lihat pula orang tua di Korea lebih sehat dan segar dibanding orang tua di Indonesia.

Apakah dengan kenyataan tersebut lantas membuat babi menjadi halal untk dimakan? Manusia dengan teknologi modernnya bisa membuat peternakan babi yang bersih dan higenis, sehingga tidak akan lagi dijumpai pola hidup babi yang kotor dan dapat pula diupayakan agar sang babi tidak dapat memakan kembali kotoran yang telah dikeluarkan dari dalam tubuhnya. Kemajuan teknologi pengolahan pangan dapat membuat daging babi menjadi bersih dari berbagai macam parasit dan penyakit yang berbahaya. Seandainya, sekali lagi seandainya jika dari suatu hasil penelitian, lemak babi dapat menyembuhkan penyakit flu burung atau aids atau kanker payudara, apakah lantas lemak babi menjadi halal untuk dikonsumsi? Sampai dunia kiamat tetap semua makanan yang bersumber dari babi haram hukumnya untuk dimakan.

Lantas jawaban apakah yang harus kita berikan seandainya orang Korea menanyakan tentang pelarangan makan babi? Jawabannya adalah karena tertulis di dalam Al Qur’an bahwa kita dilarang memakan babi. Inilah yang membedakan antara manusia yang berTuhan kepada Allah dengan manusia yang tidak berTuhan kepada Allah. Sebagai Tuhan, Allah punya kemauan dan aturan sendiri dan sebagai makhluk ciptaan Allah kita diwajibkan mengikuti apa yang Allah mau dan kehendaki. Disinilah kita lebih mengedepankan iman dibandingkan akal. Akal manusia terbatas. Mungkin saat ini kita belum sepenuhnya mengerti mengapa babi diharamkan untuk dimakan. Pada saat akal kita belum sepenuhnya mengerti akan jawaban pelarangan memakan babi tersebut maka iman kitalah yang harus dikedepankan. Mungkin alasan-alasan medis seperti yang dikemukakan di atas cocok pada 25 tahun yang lalu dimana ilmu pengetahuan belum semaju saat ini. Jadi itulah hikmah yang bisa ditarik oleh manusia-manusia pada 25 tahun yang lalu. Hikmah apa yang tersembunyi untuk saat ini? Wallahualam. Mari kita sama-sama mencari tahu jawabannya.

Apakah dengan demikian akal menjadi kurang berguna dalam memahami agama Islam? Tentu saja tidak. Sebagaimana kita sama-sama tahu bahwa Al Qur’an adalah sumber dari segala macam sumber ilmu yang ada di dunia ini. Dalam beragama (agama islam) kita memang diharuskan menggunakan akal tetapi tetap harus mengedepankan iman Pada saat akal kita belum mencapai apa yg tersembunyi dibalik hikmah-hikmah tersebut maka imanlah yg kita kedepankan.. Makanya kita disuruh untuk belajar dan mengkaji Al Qur’an dan subhanallah banyak fenomena ilmu pengetahuan (yg sayangnya ditemukan oleh orang-orang Barat) yg sesuai dgn apa yg tersirat dalam Qur'an. Ini salah satu bukti bahwa Qur'an itu bukan karangan Muhammad seperti yg dituduhkan oleh kaum orientalis. Apa mungkin orang yg buta huruf dan gak pernah keluar dari Arab bisa mengarang sebuah buku yg penuh dgn ilmu pengetahuan?

Untuk kasus-kasus tertentu, seperti pengharaman babi ini, imanlah yg harus dikedepankan, bukan akal, karena contoh-contoh alasan dengan menggunakan akal manusia tidak sepenuhnya bisa dijadikan alasan kenapa babi itu diharamkan, alasan medis yg seperti dikemukakan di atas tidak bisa dijadikan alasan utama mengapa babi diharamkan. Iman kepada Allahlah yang membuat kita tidak secuilpun memakan makanan yang mengandung babi. Demikian pula halnya dengan haramnya meminum minuman keras dan berzinah. Apapun alasan yang pernah dikemukakan tentang pelarangan ini bukanlah alasan utama yang menyebabkan kita dilarang untuk melakukannya. Alasan utamanya adalah karena didalam Qur’an tertulis pelarangan minum alkohol dan berzinah. Jadi iman kepada Allah lah yang membuat kita patuh akan larangan tersebut.


Jadi teringat salah satu lirik lagunya bang haji oma, „kenapa yang enak-enak itu diharamkan?“. Mari kita sama-sama mencari tahu jawabannya sambil tetap mengedepankan iman kita kepada Qur’an karena hukumnya memang mengatakan demikian.

Ada satu contoh kecil, mengapa orang kerja diharuskan datang pagi dan pulang sore hari dan dilarang untuk datang telat? Siapa yang membuat aturan ini? Bos atau perusahaan. Kenapa aturan yg cuma sepele ini aja banyak orang taat melakukannya tanpa banyak tanya? Sebagai karyawan yg baik tentu saja kita harus patuh terhadap aturan perusahaan. Jika tidak gaji kita tidak akan naik atau tidak naik pangkat atau tidak dapat bonus. Aturan sepele yg dibuat oleh manusia seperti ini aja kita patuh sekali. Tetapi mengapa aturan yang dibuat oleh Allah susah sekali untuk dipatuhi dan banyak sekali pertanyaan yang diajukan agar patuh. Mungkin karena dosa tidak bejendol kali ya. Seandainya saja dosa itu bejendol, seperti apa wajah dan tubuhnya wanita-wanita cantik penghuni lokalisasi dan tidak terhitung jumlah jendolan yang ada pada orang-orang yang suka minum soju hehehehe.

***Keterangan ; Setetes Embun di Negeri Kimchi adalah sebuah buku kumpulan essay karangan Bapak Rusnaldy,yang diterbitkan oleh Pumita tahun 2007 lalu.Buku yang ditulis bapak Rusnaldy ditengah-tengah kesibukan study di Korea dan sebagai pembina Pumita ini masih tersedia di koperasi Pumita Busan dengan harga 6.000 Won.



Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit
Oleh Syamsul Arifin, wakil ketua PUMITA 2009/2010.

Beriman bahwa Tuhan itu ada adalah iman yang paling utama. Jika seseorang sudah tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, maka sesungguhnya orang itu dalam kesesatan yang nyata.

Benarkah Tuhan itu ada? Kita tidak pernah melihat Tuhan. Kita juga tidak pernah bercakap-cakap dengan Tuhan. Karena itu, tidak heran jika orang-orang atheist menganggap Tuhan itu tidak ada. Cuma khayalan orang belaka.

Ada kisah zaman dulu tentang orang atheist yang tidak percaya dengan Tuhan. Dia mengajak berdebat seorang alim mengenai ada atau tidak adanya Tuhan. Di antara pertanyaannya adalah: “Benarkah Tuhan itu ada” dan “Jika ada, di manakah Tuhan itu?”

Ketika orang atheist itu menunggu bersama para penduduk di kampung tersebut, orang alim itu belum juga datang. Ketika orang atheist dan para penduduk berpikir bahwa orang alim itu tidak akan datang, barulah muncul orang alim tersebut.

“Maaf jika kalian menunggu lama. Karena hujan turun deras, maka sungai menjadi banjir, sehingga jembatannya hanyut dan saya tak bisa menyeberang. Alhamdulillah tiba-tiba ada sebatang pohon yang tumbang. Kemudian, pohon tersebut terpotong-potong ranting dan dahannya dengan sendirinya, sehingga jadi satu batang yang lurus, hingga akhirnya menjadi perahu. Setelah itu, baru saya bisa menyeberangi sungai dengan perahu tersebut.” Begitu orang alim itu berkata.

Si Atheist dan juga para penduduk kampung tertawa terbahak-bahak. Dia berkata kepada orang banyak, “Orang alim ini sudah gila rupanya. Masak pohon bisa jadi perahu dengan sendirinya. Mana bisa perahu jadi dengan sendirinya tanpa ada yang membuatnya!” Orang banyak pun tertawa riuh.

Setelah tawa agak reda, orang alim pun berkata, “Jika kalian percaya bahwa perahu tak mungkin ada tanpa ada pembuatnya, kenapa kalian percaya bahwa bumi, langit, dan seisinya bisa ada tanpa penciptanya? Mana yang lebih sulit, membuat perahu, atau menciptakan bumi, langit, dan seisinya ini?”

Mendengar perkataan orang alim tersebut, akhirnya mereka sadar bahwa mereka telah terjebak oleh pernyataan mereka sendiri.

“Kalau begitu, jawab pertanyaanku yang kedua,” kata si Atheist. “Jika Tuhan itu ada, mengapa dia tidak kelihatan. Di mana Tuhan itu berada?” Orang atheist itu berpendapat, karena dia tidak pernah melihat Tuhan, maka Tuhan itu tidak ada.

Orang alim itu kemudian menampar pipi si atheist dengan keras, sehingga si atheist merasa kesakitan.

“Kenapa anda memukul saya? Sakit sekali.” Begitu si Atheist mengaduh.

Si Alim bertanya, “Ah mana ada sakit. Saya tidak melihat sakit.. Di mana sakitnya?”

“Ini sakitnya di sini,” si Atheist menunjuk-nunjuk pipinya.

“Tidak, saya tidak melihat sakit. Apakah para hadirin melihat sakitnya?” Si Alim bertanya ke orang banyak.

Orang banyak berkata, “Tidak!”

“Nah, meski kita tidak bisa melihat sakit, bukan berarti sakit itu tidak ada. Begitu juga Tuhan. Karena kita tidak bisa melihat Tuhan, bukan berarti Tuhan itu tidak ada. Tuhan ada. Meski kita tidak bisa melihatNya, tapi kita bisa merasakan ciptaannya.” Demikian si Alim berkata.

Sederhana memang pembuktian orang alim tersebut. Tapi pernyataan bahwa Tuhan itu tidak ada hanya karena panca indera manusia tidak bisa mengetahui keberadaan Tuhan adalah pernyataan yang keliru.

Berapa banyak benda yang tidak bisa dilihat atau didengar manusia, tapi pada kenyataannya benda itu ada?

Betapa banyak benda langit yang jaraknya milyaran, bahkan mungkin trilyunan cahaya yang tidak pernah dilihat manusia, tapi benda itu sebenarnya ada?

Berapa banyak zakat berukuran molekul, bahkan nukleus (rambut dibelah 1 juta), sehingga manusia tak bisa melihatnya, ternyata benda itu ada? (manusia baru bisa melihatnya jika meletakan benda tersebut ke bawah mikroskop yang amat kuat).

Berapa banyak gelombang (entah radio, elektromagnetik. Listrik, dan lain-lain) yang tak bisa dilihat, tapi ternyata hal itu ada.

Benda itu ada, tapi panca indera manusia lah yang terbatas, sehingga tidak mengetahui keberadaannya.

Kemampuan manusia untuk melihat warna hanya terbatas pada beberapa frekuensi tertentu, demikian pula suara. Terkadang sinar yang amat menyilaukan bukan saja tak dapat dilihat, tapi dapat membutakan manusia. Demikian pula suara dengan frekuensi dan kekerasan tertentu selain ada yang tak bisa didengar juga ada yang mampu menghancurkan pendengaran manusia. Jika untuk mengetahui keberadaan ciptaan Allah saja manusia sudah mengalami kesulitan, apalagi untuk mengetahui keberadaan Sang Maha Pencipta!

Memang sulit membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Tapi jika kita melihat pesawat terbang, mobil, TV, dan lain-lain, sangat tidak masuk akal jika kita berkata semua itu terjadi dengan sendirinya. Pasti ada pembuatnya.

Jika benda-benda yang sederhana seperti korek api saja ada pembuatnya, apalagi dunia yang jauh lebih kompleks.

Bumi yang sekarang didiami oleh sekitar 8 milyar manusia, keliling lingkarannya sekitar 40 ribu kilometer panjangnya. Matahari, keliling lingkarannya sekitar 4,3 juta kilometer panjangnya. Matahari, dan 9 planetnya yang tergabung dalam Sistem Tata Surya, tergabung dalam galaksi Bima Sakti yang panjangnya sekitar 100 ribu tahun cahaya (kecepatan cahaya=300 ribu kilometer/detik!) bersama sekitar 100 milyar bintang lainnya. Galaksi Bima Sakti, hanyalah 1 galaksi di antara ribuan galaksi lainnya yang tergabung dalam 1 “Cluster”. Cluster ini bersama ribuan Cluster lainnya membentuk 1 Super Cluster. Sementara ribuan Super Cluster ini akhirnya membentuk “Jagad Raya” (Universe) yang bentangannya sejauh 30 Milyar Tahun Cahaya! Harap diingat, angka 30 Milyar Tahun Cahaya baru angka estimasi saat ini, karena jarak pandang teleskop tercanggih baru sampai 15 Milyar Tahun Cahaya.

Bayangkan, jika jarak bumi dengan matahari yang 150 juta kilometer ditempuh oleh cahaya hanya dalam 8 menit, maka seluruh Jagad Raya baru bisa ditempuh selama 30 milyar tahun cahaya. Itulah kebesaran ciptaan Allah! Jika kita yakin akan kebesaran ciptaan Tuhan, maka hendaknya kita lebih meyakini lagi kebesaran penciptanya.

Dalam Al Qur’an, Allah menjelaskan bahwa Dialah yang menciptakan langit, bintang, matahari, bulan, dan lain-lain:

“Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.” [Al Furqoon:61]

Ada jutaan orang yang mengatur lalu lintas jalan raya, laut, dan udara. Mercusuar sebagai penunjuk arah di bangun, demikian pula lampu merah dan radar. Menara kontrol bandara mengatur lalu lintas laut dan udara. Sementara tiap kendaraan ada pengemudinya. Bahkan untuk pesawat terbang ada Pilot dan Co-pilot, sementara di kapal laut ada Kapten, juru mudi, dan lain-lain. Toh, ribuan kecelakaan selalu terjadi di darat, laut, dan udara.. Meski ada yang mengatur, tetap terjadi kecelakaan lalu lintas.

Sebaliknya, bumi, matahari, bulan, bintang, dan lain-lain selalu beredar selama milyaran tahun lebih (umur bumi diperkirakan sekitar 4,5 milyar tahun) tanpa ada tabrakan. Selama milyaran tahun, tidak pernah bumi menabrak bulan, atau bulan menabrak matahari. Padahal tidak ada rambu-rambu jalan, polisi, atau pun pilot yang mengendarai. Tanpa ada Tuhan yang Maha Mengatur, tidak mungkin semua itu terjadi. Semua itu terjadi karena adanya Tuhan yang Maha Pengatur. Allah yang telah menetapkan tempat-tempat perjalanan (orbit) bagi masing-masing benda tersebut. Jika kita sungguh-sungguh memikirkan hal ini, tentu kita yakin bahwa Tuhan itu ada.

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” [Yunus:5]

“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” [Yaa Siin:40]

Sungguhnya orang-orang yang memikirkan alam, insya Allah akan yakin bahwa Tuhan itu ada:

Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.” [Ar Ra’d:2]

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” [Ali Imron:191]

Terhadap manusia-manusia yang sombong dan tidak mengakui adanya Tuhan, Allah menanyakan kepada mereka tentang makhluk ciptaannya. Manusiakah yang menciptakan, atau Tuhan yang Maha Pencipta:

“Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan. Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya?” [Al Waaqi’ah:58-59]

“Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya?” [Al Waaqi’ah:63-64]

“Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kamikah yang menjadikannya?” [Al Waaqi’ah:72]

Di ayat lain, bahkan Allah menantang pihak lain untuk menciptakan lalat jika mereka mampu. Manusia mungkin bisa membuat robot dari bahan-bahan yang sudah diciptakan oleh Allah. Tapi untuk menciptakan seekor lalat dari tiada menjadi ada serta makhluk yang bisa bereproduksi (beranak-pinak), tak ada satu pun yang bisa menciptakannya kecuali Allah:

“…Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” [Al Hajj:73]

Sesungguhnya, masih banyak ayat-ayat Al Qur’an lainnya yang menjelaskan bahwa sesungguhnya, Tuhan itu ada, dan Dia lah yang Maha Pencipta.



Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit